" Assalammu'alaikum Wr. Wb. "

" Assalammu'alaikum Wr. Wb. "..." Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat serta salam selalu tercurah keharibaan Rasululloh SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya hingga akhir jaman. Salam Sejahtera dari Keluarga Besar Puji Setiyono " " Semoga Allah selalu mencurahkan kepada Kita Rahmat, Taufiq, Hidayah, Karunia dan Rejeki-NYA serta meningkatkan Iman Taqwa dan Ibadah serta memberi jalan yang terang. " " Bagi yang saat ini sedang sakit semoga segera sembuh, bagi yang sedang dalam kesulitan, semoga segera memperoleh jalan keluar terbaik, lepas dari kesulitannya ". " Tiada yang lebih Indah di Dunia ini selain Jalinan Persaudaraan dan Kasih Sayang, Terimalah blooger (Jalan Menuju Sukses Dunia & Akhirat) Puji Setiyono' ini sebagai Tanda Kasih Sayang dan Jalinan Persaudaraan Kami untukmu Wahai Saudaraku. " " Semoga dengan membaca isi blooger ini, memperoleh khazanah Ilmu yang bermanfaat untuk Dunia dan Akhirat, karena dengan mambacalah, Hikmah itu terkuak, yang kemudian Kita amalkan untuk menuai berbagai Kebajikan dan Kemuliaan disisi Allah SWT. " " Yaa Allah, Anugerahkanlah kepada Kami Ilmu-MU, Rejeki-MU,RahkmatMu, yang tiada habis2nya dan berguna untuk Kehidupan Kami di Dunia ini menuju Syurga-MU, ……“”Amiin””……

Rabu, 14 Juli 2010

**Mutiara Untuk Bunda**

**Mutiara Untuk Bunda**

BUNDA…apakah yang sebenarnya engkau harapkan dari kami, anak-anakmu ? Ingatkah dulu ketika tingkah laku kami menguji kesabaranmu, kata-kata yang selalu terucap dari bibirmu di awali dengan kata semoga ?
Sadarkah engkau jika kata semoga yang terucap itu menjadi doa ? Kini kami telah menjadi seseorang yang sesuai dengan kata semogamu, tapi mengapa seolah engkau lupa dengan harapan itu ? Seringkali engkau ceritakan keberhasilan yang dicapai anak dari teman-teman atau kenalanmu seolah ajang perbandingan bagi kami.
Bukankah ungkapan populer seperti barangsiapa yang menanam maka ia pula yang akan menuai, bisa menjadi suatu pelajaran; bahwa seseorang akan memperoleh hasil sesuai dengan apa yang ia usahakan. Begitu banyak contoh nyata yang berbicara, seorang anak terbentuk dari hasil kebiasaan, doa dan harapan kedua orangtuanya.
Ada kisah seorang anak yang ketika dewasanya berhasil menjadi jenderal disebabkan semasa kecilnya sering disirami harapan berupa ucapan dari sang ibu, semoga nanti kamu menjadi jenderal. Ada anak yang tumbuh dewasa berhasil dalam hal materi, ada yang sukses berkarir dan menduduki jabatan tertentu, ada juga yang sukses dalam mencapai religiusitas kehidupannya. Tentu saja keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah Swt yang Maha berkuasa atas segala sesuatu.
Bunda, apakah sebenarnya yang engkau harapkan dari kami, anak-anakmu ? Masih lekat dalam ingatan kami, kenangan berharga dari masa kecil yang kini menemani kehidupan dewasa kami. Bagaimana dulu bunda selalu menceritakan kisah-kisah hikmah para Nabi sebagai pengantar tidur, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan mencontohkan kebiasaan beribadah kepada Allah Swt. Kami belajar tentang kemuliaan hidup dengan ketaatan kepada-Nya.
Bunda, apakah engkau menginginkan kami memiliki keberhasilan seperti kebanyakan orang ? berlimpah kemewahan dunia yang kemudian dikatakan banyak orang sebagai keberuntungan hidup tapi miskin ruhaninya. Menampakkan kemegahan dalam harta benda dan penampilannya namun lupa menampakkan rasa syukur kepada yang telah memberikannya (Allah Swt) dalam perilaku hidup kesehariannya.
Bukankah kesenangan hidup adalah hal yang dipergilirkan oleh Allah di dunia ? Itulah tabiat kehidupan yang sebenarnya, jika kita menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita. Hanya kenikmatan hidup yang diiringi dengan ketaatan kepada Allah sajalah yang akan bertahan lama dan selalu bertambah. Mengapa harus bersusah payah memikirkan dunia ? Tenanglah bunda, semua berjalan sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Itulah pelajaran yang kami dapat di bawah naungan bimbingan bunda.
Bunda, ibadah kami, kecintaan kami terhadap ilmu dan agama adalah hasil dari kebiasaan hidup yang kami serap darimu. Begitulah cara engkau membesarkan kami. Demikianlah kami tumbuh dan dewasa. Bunda, sadarilah ini sebagai keberhasilan bunda dalam mendidik kami yang merupakan realisasi dari hadist Rasulullah, bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki (didikkan) para ibu. Inilah kemuliaan bagimu, tidakkah bunda merasa puas dan bahagia ?
Keberhasilan dan kemuliaan bunda dalam membesarkan kami tidak diukur dari sekedar kemewahan harta benda, begitu pula dengan keberuntungan hidup kami. Kita memiliki keyakinan akan kenikmatan negeri akhirat. Relakah bunda menukar segala kenikmatan surga dengan kenikmatan dunia yang diibaratkan Rasulullah sebagai gundukkan sampah ?
Bunda, jangan menangis…maafkan kami, jika kami belum lah sesempurna doa dan harapan bunda. Untukmu, kupintakan doa kepada yang Maha memiliki segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Semoga Allah Swt menghapus kesedihanmu dan berkenan memberikan apa yang bunda inginkan terhadap kami…Agar bunda bahagia dan termasuk kedalam golongan hamba-hamba Allah yang mensyukuri nikmat-Nya.
Semoga Allah menyelamatkanmu dari terjangkitnya penyakit cinta dunia yang kini membutakan kebanyakan hati para orangtua dan tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang ingkar terhadap nikmat Allah, karena seburuk-buruk tempat kembali mereka adalah neraka.

Ya, Allah…Engkaulah zat yang Maha mendengar dan mengabulkan permohonan setiap hamba yang meminta kepada-Mu. Perkenankanlah doa kami, sebagai rasa syukur kami kepada-Mu dan sebagai rasa terima kasih kami kepada bunda yang telah mendidik kami mengenal ketaatan dan kecintaan terhadap-Mu.
“Ya, Allah. Ampunilah dosa kami dan dosa kedua orangtua kami serta sayangilah keduanya seperti mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil”. (QS. Al Israa’, ayat 24). Ya, Allah…Jadikanlah kecintaan kami kepada-Mu, kepada ilmu dan agama sebagai kemuliaan dan mutiara untuk bunda, di dunia dan di akhirat, amin.***

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar