" Assalammu'alaikum Wr. Wb. "

" Assalammu'alaikum Wr. Wb. "..." Segala Puji bagi Allah Tuhan Semesta Alam. Shalawat serta salam selalu tercurah keharibaan Rasululloh SAW, keluarganya, para sahabatnya, dan umatnya hingga akhir jaman. Salam Sejahtera dari Keluarga Besar Puji Setiyono " " Semoga Allah selalu mencurahkan kepada Kita Rahmat, Taufiq, Hidayah, Karunia dan Rejeki-NYA serta meningkatkan Iman Taqwa dan Ibadah serta memberi jalan yang terang. " " Bagi yang saat ini sedang sakit semoga segera sembuh, bagi yang sedang dalam kesulitan, semoga segera memperoleh jalan keluar terbaik, lepas dari kesulitannya ". " Tiada yang lebih Indah di Dunia ini selain Jalinan Persaudaraan dan Kasih Sayang, Terimalah blooger (Jalan Menuju Sukses Dunia & Akhirat) Puji Setiyono' ini sebagai Tanda Kasih Sayang dan Jalinan Persaudaraan Kami untukmu Wahai Saudaraku. " " Semoga dengan membaca isi blooger ini, memperoleh khazanah Ilmu yang bermanfaat untuk Dunia dan Akhirat, karena dengan mambacalah, Hikmah itu terkuak, yang kemudian Kita amalkan untuk menuai berbagai Kebajikan dan Kemuliaan disisi Allah SWT. " " Yaa Allah, Anugerahkanlah kepada Kami Ilmu-MU, Rejeki-MU,RahkmatMu, yang tiada habis2nya dan berguna untuk Kehidupan Kami di Dunia ini menuju Syurga-MU, ……“”Amiin””……

Rabu, 02 Maret 2011

Empat Penyakit karena tidak Bersyukur

Empat Penyakit karena tidak Bersyukur



“Sangat menarik bagi urusan orang mukmin itu. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik baginya dan tiada yang demikian itu bagi seseorang melainkan hanyalah bagi orang yang beriman. Jika ia memperoleh kebaikan, maka ia bersyukur, maka baiklah padanya. Jika ia mendapat kesulitan maka ia bersabar dan menjadi baiklah padanya.” (HR Muslim)

DUA hal senantiasa silih berganti dalam kehidupan manusia adalah suka dan duka, senang dan susah, serta inilah pula irama hidup yang mau tak mau harus diterima. Bagi orang yang beriman, kedua hal ini disebut dengan ujian hidup dan tidak seorang manusiapun yang dapat menentangnya dan luput dari keduanya.
Buktinya kita dapat melihat dan mendengar, bahwa suatu saat manusia berada dalam kesenangan, kemakmuran dan kebahagiaan. Sedangkan pada saat yang lain mengalami penuh kesengsaraan atau penderitaan. Benar seperti kata orang bijak, kehidupan manusia di bumi ini tak ubahnya laksana roda pedati. Sekali di atas dan sekali pula di bawah dan itu merupakan hukum alam yang tidak boleh dipungkiri.

Menyikapi kedua bentuk kehidupan yang terkadang membingungkan harus bersyukur yang dibalut dengan penuh kesabaran. Karena bila tidak akan membuat malapetaka. Apabila sedang mendapat kesusahan atau kesulitan kita harus bersyukur, apalagi bila memperoleh kesenangan karena keduanya merupakan ujian dari Allah SWT. Rasulullah SAW telah memberikan petunjuk tentang sikap terbaik yang harus dilakukan oleh seorang muslim di kala suka dan duka sebagaimana sabdanya di awal tulisan ini.

Mereka yang tidak pandai bersyukur bila memperoleh nikmat dan tidak pandai bersabar kala mendapat cobaan dan ujian niscaya tidak akan mendapat kebahagiaan di dalam hidupnya. Bahkan dalam Al-Quran Surat Al-Fajr ayat 15-20 juga diterangkan bagi mereka yang tidak pandai bersyukur dan bersyukur akan mengidap sedikitnya empat macam penyakit:
> Sombong dan angkuh. Islam mengajarkan kepada kita agar mengasihi sesama manusia terutama mereka yang memerlukan pertolongan seperti halnya anak yatim. Tidak ada yang menanggung segala keperluan hidupnya.
> Ananiah. Yakni hanya mementingkan diri sendiri sehingga dia tidak mau menganjurkan untuk memberi makan kepada fakir miskin. Islam mengajarkan kepada kita supaya memiliki rasa kemanusiaan yang diwujudkan dalam amal nyata yaitu berupa penyantunan kepada orang yang masih kurang beruntung dalam kehidupannya.
> Serakah, tamak, loba dan egois yang berlebihan. Sifat-sifat ini sangat berbahaya karena bisa menghalalkan segala cara untuk mendapatkan apa yang diinginkannya walaupun dengan melanggar aturan-aturan agama dan undang-undang yang berlaku.
> Cinta harta yang berlebihan. Orang-orang yang cinta harta ini biasanya akan lalai dengan tugas dan tanggung jawabnya apalagi untuk menunaikan perintah Allah SWT. Dalam surat Al Humazah disebutkan bahwa manusia seperti itu tempatnya nanti di neraka huthamah.

Ada tiga dimensi syukur. Pertama, bersyukur dengan hati yakni ungkapan kepuasan dalam batin atas anugerah yang diperoleh. Kedua, bersyukur dengan ucapan yakni mengakui angerah dan memuji pemberinya. Ketiga, bersyukur dengan perbuatan yakni bekerja memelihara, memanfaatkan dan mengembangkan angerah yang diperoleh sesuai tujuan pemberian anugerah tersebut.

Dalam Islam disebutkan apabila mendapat nikmat harus bersyukur, sedangkan bila mendapat kesulitan atau cobaan harus bersabar. Dalam arti luas, sabar mengandung makna penerimaan atau kepasrahan terhadap suatu musibah yang menimpa diri seseorang. Sabar dalam Al Quran dan Al-Hadist merupakan sebuah kata yang multi tafsir. Dalam surat Al-Baqarah ayat 45 Allah SWT berfirman:
“Jadikanlah sabar dan shalat itu sebagai penolongmu dan sesungguhnya yang demikian itu sangat berat kecuali bagi orang-orang yang khusyu’”. Selanjutnya dalam surat yang sama ayat 153 Allah SWT juga berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah SWT beserta orang-orang yang sabar.”

Dari dua ayat dalam surat yang sama barusan kita manusia telah diisyaratkan oleh Allah SWT, bahwa sangat penting memahami arti sabar. Karena sabar itu sama nilainya dengan ibadah-ibadah yang lain yang tidak berbentuk suatu ritual. Sabar dalam konotasi sebagai penolong tidak dapat kita rasakan dengan baik dan sempurna kalau tidak atas dasar iman dan takwa.

Sriwijaya Post.

Senin, 21 Februari 2011

Ujian ALLAH SWT pada titik lemah kita

Allah Swt akan senantiasa menguji kita pada titik terlemah kita. Sampai kita berhasil memperbaiki kelemahan itu.
Diantara kita mungkin pernah mengalami suatu pemasalahan yang sama dalam waktu yang berbeda. Dan tak jarang diantara kita berkata, "Kok saya selalu dihadapkan oleh masalah yang sama sich, masalah ini terus, ga da beres- beresnya. Kapan saya bisa melewatinya...."
Selalu dihadapkan oleh masalah krisis ekonomi,
hubungan dengan lawan jenis, sekolah/ kuliah yang tidak beres, hubungan dengan keluarga, dan masalah-masalah lainnya. Sepertinya tidak bijak kalau kita menyebut "masalah", kita ganti dengan istilah cobaan/ujian karena pada hakikatnya itu datang dari Allah Swt, dan supaya pikiran kita tidak menangkap energi negatif dengan kata "masalah".
Nah itulah hidup, kita akan selalu dihadapkan pada ujian satu dan beralih pada ujian baru ketika satu ujian telah kita selesaikan dengan cara kita.
Seperti seorang murid yang mendapatkan ujian dari gurunya terhadap matapelajaran yang telah dia ajarkan. Murid tersebut akan lulus jika jawabannya benar dan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh gurunya.
Dan sebaliknya, jika tidak lulus, gurunya akan memberikan ujian perbaikan "her" agar bisa lulus dan naik kelas. Matapelajaran yang diujikan sama tapi mungkin soal- soalnya saja yang sedikit ada perbedaan.
Nah seperti itulah analogi ujian kehidupan yang diberikan Allah kepada kita.
Allah Swt akan memberikan ujian yang sama kepada kita sampai kita benar-benar dianggap lulus oleh Allah Swt dan layak dinaikkan derajatnya. Kalau kita mau renungkan, itu adalah bentuk kasih sayang Allah Swt kepada kita. Seperti seorang guru yang sayang pada muridnya, ia bersedia memberikan kesempatan kedua agar muridnya lulus, tidak membiarkannya tertinggal.
Tentunya kasih sayang Allah Swt jauh lebih besar terhadap hamba- Nya. Dia ingin, saat kita mendapat ujian yang lebih berat/besar lagi kita sudah siap dan akan melaluinya dengan baik pula. Dan tentunya kita tidak meninggalkan ujian yang nilainya buruk dihadapan Allah Swt.
Semua ujian darinya adalah untuk menguji tingkat keimanan kita sebagai makhluk- Nya.
Apakah kita mampu bertahan dan melaluinya dengan cara terbaik dan sesuai dengan yang disyariatkan oleh-Nya. Tidak mengeluh dan berkeluh kesah. Seharusnya dengan ujian itu menjadikan kita lebih dekat kepada-Nya, memohon bantuan kepada-Nya karena Dia lah yang memberikan ujian dan Dia pulalah yang akan membantu kita menyelesaikannya.
Keyakinan kita akan kemampuan kita (dilandasi keyakinan kepada Allah) dalam menyelesaikan ujian akan sangat membantu kita untuk melalui semua ujian kehidupan ini. Karena "Allah Swt sesuai dengan prasangka hamba- Nya" dan Kita adalah apa yang kita pikirkan. Ada masalah/ujian/co baan Insya Allah pasti ada solusinya. Ujian dari Allah, solusinya juga datang dari Allah. Tinggal kita saja mau atau tidak berusaha mencari solusi itu.
Tidak berdiam diri menunggu sang solusi datang begitu saja!!!

Have a day full of smiles, good work and love!
Because Smile is the Melody of the Soul. Work is the Service of the Spirit and Love is the Gift of the heart.

《》※々※《》

Teruslah bergerak
Hingga KELELAHAN itu LELAH mengikutimu.
Teruslah berlari
Hingga KEBOSANAN itu BOSAN mengejarmu.
Teruslah berjalan
Hingga KELETIHAN itu LETIH bersamamu.
Teruslah bertahan
Hingga KEFUTURAN itu FUTUR menyertaimu
Teruslah berjaga
Hingga KELESUAN itu LESU menemanimu.
(Alm. Ust. Rahmat Abdullah)
Semoga Allah meridhai perjuangan ini, dan memberikan yang terbaik.
Allahumma yassir wala tu'asir.
Bismillah, tawakaltu 'alallaah
laa hawlaa walaa quwwata ilaa billaah..

Surat Sayang Dari ALLAH SWT

Surat Sayang Dari ALLAH SWT

Saat kau bangun pagi hari, AKU memandangmu dan berharap engkau akan
berbicara kepada KU, walaupun hanya sepatah kata meminta pendapatKU atau
bersyukur kepada KU atas sesuatu hal yang indah yang terjadi dalam
hidupmu hari ini atau kemarin……
Tetapi AKU melihat engkau begitu sibuk mempersiapkan diri untuk pergi bekerja …….

AKU kembali menanti saat engkau sedang bersiap, AKU tahu akan ada
sedikit waktu bagimu untuk berhenti dan menyapaKU,tetapi engkau terlalu sibuk ………
Disatu tempat, engkau duduk disebuah kursi selama lima belas menit tanpa
melakukan apapun. Kemudian AKU melihat engkau menggerakkan kakimu. AKU
berfikir engkau akan berbicara kepadaKU tetapi engkau berlari ke telephone dan menghubungi seorang teman untuk mendengarkan kabar terbaru.

AKU melihatmu ketika engkau pergi bekerja dan AKU menanti dengan sabar
sepanjang hari. Dengan semua kegiatanmu AKU berfikir engkau terlalu
sibuk mengucapkan sesuatu kepadaKU.

Sebelum makan siang AKU melihatmu memandang sekeliling, mungkin
engkau merasa malu untuk berbicara kepadaKU, itulah sebabnya mengapa
engkau tidak menundukkan kepalamu. Engkau memandang tiga atau empat meja sekitarmu dan melihat beberapa temanmu berbicara dan menyebut namaKU dengan lembut sebelum menyantap rizki yang AKU berikan, tetapi engkau tidak melakukannya …….
masih ada waktu yang tersisa dan AKU berharap engkau akan berbicara
kepadaKU, meskipun saat engkau pulang kerumah kelihatannya seakan- akan
banyak hal yang harus kau kerjakan.

Setelah tugasmu selesai, engkau menyalakan TV, engkau menghabiskan
banyak waktu setiap hari didepannya, tanpa memikirkan apapun dan hanya
menikmati acara yg ditampilkan. Kembali AKU menanti dengan sabar saat
engkau menonton TV dan menikmati makananmu tetapi kembali kau tidak
berbicara kepadaKU ………

Saat tidur, KU pikir kau merasa terlalu lelah. Setelah mengucapkan selamat malam kepada keluargamu, kau melompat ketempat tidur dan tertidur tanpa sepatahpun namaKU, kau sebut.

Engkau menyadari bahwa AKU selalu hadir untukmu. AKU telah bersabar lebih lama dari yang kau sadari. AKU bahkan ingin mengajarkan bagaimana bersabar terhadap orang lain.
AKU sangat menyayangimu, setiap hari AKU menantikan sepatah kata, do’a, pikiran atau syukur dari hatimu.

Keesokan harinya …… engkau bangun kembali dan kembali AKU menanti
dengan penuh kasih bahwa hari ini kau akan memberiku sedikit waktu untuk
menyapaKU …….Tapi yang KU tunggu …….. tak kunjung tiba …… tak juga kau menyapaKU.


Subuh …….. Dzuhur ……. Ashyar ……….Magrib ……… Isya dan Subuh kembali, kau masih mengacuhkan AKU…..tak ada sepatah kata, tak ada seucap do’a, dan tak ada rasa, tak ada harapan dan keinginan untuk bersujud kepadaKU………

Apa salahKU padamu …… wahai UmmatKU?????
Rizki yang KU limpahkan, kesehatan yang KU berikan, harta yang KU
relakan, makanan yang KU hidangkan, anak-anak yang KUrahmatkan, apakah
hal itu tidak membuatmu ingat kepadaKU …………!!!!!!!

Percayalah AKU selalu mengasihimu, dan AKU tetap berharap suatu saat
engkau akan menyapa KU, memohon perlindungan KU, bersujud menghadap KU
…… Yang selalu menyertaimu setiap saat ……..
(Yeni Kurniawi)

Kamis, 17 Februari 2011

Bersyukur Atas Nikmat Allah

Sesungguhnya, segala sesuatu di dunia ini hanyalah cobaan bagi seluruh umat manusia. Kesusahan dan kemudahan, kemiskinan dan kekayaan, harta dan ilmu, nikmat dan musibah, pada hakikatnya hanyalah ujian yang diberikan oleh Allah swt kepada para hamba-Nya. Barang siapa yang mampu bersyukur dan bersabar, maka merekalah yang niscaya termasuk dalam golongan orang-orang yang beruntung. Namun barang siapa yang kufur serta selalu mengikuti nafsu dan emosi semata, maka niscaya merekalah yang berada dalam kumpulan orang-orang yang merugi.

Nikmat dan musibah, kesusahan dan kesenangan, tidak lain adalah sama-sama ujian yang akan terus mewarnai kehidupan manusia. Tidak akan ada satu manusia pun di dunia ini yang terbebas dari yang namanya ujian. Karena, dengan ujian itulah maka manusia dapat menjadi makhluk yang sesuai dengan fitrahnya. Tanpa ujian, maka niscaya manusia akan terjerumus dalam liang kehinaan.

Seandainya nikmat itu bukanlah satu bentuk ujian, maka tidak akan ada manusia yang akan bersyukur kepada Allah swt dan berbagi dengan sesamanya. Jika musibah bukanlah satu ujian, maka tidak akan ada manusia yang akan membantu manusia lainnya, tidak akan ada manusia yang akan bersabar atas musibah yang menimpanya, dan tidak akan ada manusia yang mau beribadah di tengah musibah yang menimpanya.

“Berbagai ujian” , itulah yang kelak akan menghantarkan manusia ke dalam naungan dan rahmat Allah swt. Namun demikian, “berbagai ujian” itu pulalah yang nanti juga banyak menghantarkan manusia ke dalam siksa api neraka. Di sinilah pentingnya memahami dan terus mengaplikasikan rasa syukur dan sabar atas segala apa yang diberikan dan diambil oleh Allah swt.

Nikmat adalah salah satu bentuk ujian yang akan membawa manusia memperoleh derajat yang lebih tinggi, di dunia dan di akhirat. Namun sangat disayangkan, ternyata nikmat juga merupakan salah satu bentuk ujian Allah swt bagi hamba-Nya yang justru banyak melalaikan mereka dari mengingat dan taat kepada Allah swt. Nikmat yang telah Allah swt tebarkan di muka bumi, justru telah membuat banyak manusia semakin menjauh dan kufur kepada Allah swt. Mereka lupa bahwa sesungguhnya segala bentuk nikmat yang telah mereka dapatkan adalah berasal dari Allah swt. Mereka menganggap, segala yang telah mereka miliki adalah hasil jerih payah mereka sendiri, semata karena kepandaian mereka sendiri. Dalam hal ini Allah swt telah berfirman di dalam Al Quran, yang artinya:

“Dan jika kami melimpahkan kepadanya sesuatu rahmat dari kami, sesudah dia ditimpa kesusahan, pastilah dia berkata ” ini adalah hakku”. (QS. Fushshilat: 50).

“(Qarun) berkata: sesungguhnya aku diberi harta kekayaan ini, tiada lain kerana ilmu yang ada padaku”. (QS. Al Qashash: 78)

Betapa kedua ayat di atas menunjukkan bahwa nikmat Allah swt itu merupakan satu bentuk ujian yang jika kita tidak dapat menyikapinya dengan rasa syukur, justru akan menjebloskan kita ke dalam lubang kekufuran.

Ada sebuah riwayat yangmenceritakan tentang tiga orang dari bani Israil yang mendapatkan nikmat dan ujian dari Allah swt. Ketiga orang tersebut merupakan penderita penyakit kusta, orang buta, dan orang yang berkepala botak permanen. Berikut ini kami sajikan kisah ketiga orang tersebut yang terdapat di dalam salah satu hadits Nabi saw.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahawa ia mendengar Rasulullah saw bersabda:

“Sesungguhnya ada tiga orang dari bani Israil, yaitu: penderita penyakit kusta, orang berkepala botak, dan orang buta. Kemudian Allah swt ingin menguji mereka bertiga, maka diutuslah kepada mereka seorang malaikat.

Maka datanglah malaikat itu kepada orang pertama yang menderita penyakit kusta dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: “Rupa yang bagus, kulit yang indah, dan penyakit yang menjijikan ramai orang ini hilang dari diriku”. Maka diusaplah orang tersebut, dan hilanglah penyakit itu, serta diberilah ia rupa yang bagus, kulit yang indah, kemudian malaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Lalu kekayaan apa yang paling kamu senangi?”, ia menjawab: “unta atau sapi”, maka diberilah ia seekor unta yang sedang bunting, dan ia pun didoakan: “Semoga Allah swt memberikan berkah-Nya kepadamu dengan unta ini.”

Kemudian Malaikat tadi mendatangi orang kepalanya botak, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: “Rambut yang indah, dan apa yang menjijikan dikepalaku ini hilang”, maka diusaplah kepalanya, dan seketika itu hilanglah penyakitnya, serta diberilah ia rambut yang indah, kemudian melaikat tadi bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang kamu senangi?”. ia menjawab: “sapi atau unta”, maka diberilah ia seekor sapi yang sedang bunting, seraya didoakan: ” Semoga Allah swt memberkahimu dengan sapi ini.”

Kemudian melaikat tadi mendatangi orang yang buta, dan bertanya kepadanya: “Apakah sesuatu yang paling kamu inginkan?”, ia menjawab: ”Semoga Allah swt berkenan mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat orang”, maka diusaplah wajahnya, dan seketika itu dikembalikan oleh Allah swt penglihatannya, kemudian melaikat itu bertanya lagi kepadanya: “Harta apakah yang paling kamu senangi?”, ia menjawab: “kambing”, maka diberilah ia seekor kambing yang sedang bunting.

Lalu berkembang biaklah unta, sapi dan kambing tersebut, sehingga yang pertama memiliki satu lembah unta, yang kedua memiliki satu lembah sapi, dan yang ketiga memiliki satu lembah kambing.

Sabda Nabi saw berikutnya:

Kemudian datanglah malaikat itu kepada orang yang sebelumnya menderita penyakit kusta, dengan menyerupai dirinya disaat ia masih dalam keadaan berpenyakit kusta, dan berkata kepadanya: “Aku seorang miskin, telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga tidak akan dapat meneruskan perjalananku hari ini kecuali dengan pertolongan Allah swt, kemudian dengan pertolongan anda. Demi Allah yang telah memberi anda rupa yang tampan, kulit yang indah, dan kekayaan yang banyak ini, aku minta kepada anda satu ekor unta saja untuk bekal meneruskan perjalananku”, tetapi permintaan ini ditolak dan dijawab: “Hak hak (tanggunganku) masih banyak”, kemudian malaikat tadi berkata kepadanya: “Sepertinya aku pernah mengenal anda, bukankah anda ini dulu orang yang menderita penyakit lepra, yang mana orangpun sangat jijik melihat anda, lagi pula anda orang yang miskin, kemudian Allah swt memberikan kepada anda harta kekayaan?”, dia malah menjawab:

“Harta kekayaan ini warisan dari nenek moyangku yang mulia lagi terhormat”, maka malaikat tadi berkata kepadanya: “jika anda berkata dusta niscaya Allah swt akan mengembalikan anda kepada keadaan anda semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya berkepala botak, dengan menyerupai dirinya disaat masih botak, dan berkata kepadanya sebagaimana ia berkata kepada orang yang pernah menderita penyakita lepra, serta ditolaknya pula permintaanya sebagaimana ia ditolak oleh orang yang pertama. Maka malaikat itu berkata: “jika anda berkata bohong niscaya Allah swt akan mengembalikan anda seperti keadaan semula”.

Kemudian malaikat tadi mendatangi orang yang sebelumnya buta, dengan menyerupai keadaannya dulu disaat ia masih buta, dan berkata kepadanya: “Aku adalah orang yang miskin, yang kehabisan bekal dalam perjalanan, dan telah terputus segala jalan bagiku (untuk mencari rizki) dalam perjalananku ini, sehingga kau tidak dapat lagi meneruskan perjalananku hari ini, kecuali dengan pertolongan Allah swt kemudian pertolongan anda. Demi Allah yang telah mengembalikan penglihatan anda, aku minta seekor kambing saja untuk bekal melanjutkan perjalananku”. Maka orang itu menjawab: “Sungguh aku dulunya buta, lalu Allah swt mengembalikan penglihatanku. Maka ambillah apa yang anda sukai, dan tinggalkan apa yang tidak anda sukai. Demi Allah, saya tidak akan mempersulit anda dengan mengembalikan sesuatu yang telah anda ambil kerana Allah”. Maka malaikat tadi berkata: ” Peganglah harta kekayaan anda, kerana sesungguhnya engkau ini hanya diuji oleh Allah swt, Allah swt telah ridho kepada anda, dan murka kepada kedua teman anda”. (HR. Bukhori dan Muslim)

Demikian Rasulullah saw mengisahkan di dalam haditsnya yang cukup panjang. Jika ketiga orang lelaki di atas mengerti bahwa hakikat dari nikmat adalah ujian dari Allah swt, tentu saja mereka akan bersyukur, terjaga dari kufur, serta terhindar dari membanggakan diri dan melupakan Allah swt sebagai Sang pemberi nikmat yang Maha Tunggal. Jika mereka memahami bahwa nikmat merupakan salah satu bentuk ujian Allah swt kepada hamba-Nya, yang akan dimintai pertanggung jawabannya,niscaya mereka akan bersyukur dan terhindar dari kikir dan bakhil, sehingga mereka semua akan mendapat ridho dari Allah swt.

Semoga artikel singkat dan riwayat yang penuh dengan hikmah ini dapat menjadi pembuka hati kita semua, sehingga dapat menjadi makhluk yang senantiasa bersyukur kepada Allah swt di setiap waktu. Amin.

www.syahadat.com

Kaitan Dunia dengan Akhirat

Kaitan Dunia dengan Akhirat

Telah kita ketahui bahwa kehidupan manusia tidak terbatas hanya pada kehidupan duniawi yang semu dan sementara saja, akan tetapi ia akan dikembalikan lagi ke kehidupan lain untuk kedua kalinya di alam akhirat, agar ia hidup selama-lamanya. Telah kita ketahui pula bahwa kehidupan akhirat merupakan kehidupan yang hakiki dan sejati, sehingga dunia ini tidak layak untuk disebut sebagai kehidupan bila dibandingkan dengan kehidupan akhirat.

Kini, tiba saatnya kita membahas relasi antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, dan memberikan batasan jenis relasi itu. Meskipun jenis relasi ini telah jelas pada batasan tertentu melalui pembahasan yang telah lalu. Akan tetapi, menilik sebagian pandangan yang menyimpang dalam bidang ini, selayaknya kita harus lebih banyak memahami tema ini, dan kita akan membahasnya lebih dalam lagi agar kita dapat mengetahui relasi antara dunia dan akhirat melalui dalil akal dan dalil wahyu.

Dunia Sebagai Lahan Akhirat

Pertama yang perlu ditekankan adalah bahwa kebahagiaan dan kesengsaraan ukhrawi itu tergantung kepada perbuatan manusia di dunia ini. Maka itu, tidak mungkin seseorang akan memperoleh kenikmatan ukhrawi dengan cara berusaha keras di alam akhirat itu sendiri, dimana setiap orang yang tubuhnya lebih kuat dan pemikirannya akan lebih cerdas dapat menyiapkan bekal kenikmatan di alam tersebut, atau bagi sebagian penipu yang dapat menggunakan cara muslihatnya akan dapat menguasai hasil jerih-payah orang lain di alam tersebut. Sebagaimana dugaan sebagian manusia, bahwa alam akhirat merupakan alam tersendiri; yang sama sekali tidak ada hubungannya dengan alam dunia.

Al-Qur’an menukil sebagian kisah kaum kafir:

“Dan aku tidak mengira bahswasannya hari kiamat itu tidak akan terjadi dan sekiranya aku ini dikembalkikan kepada Tuhanku, maka aku akan dapati kebaikan itu terbalik.” (QS. Al-Kahfi: 36)

“Dan aku tidak mengira bahwasannya hari kiamat itu akan terjadi, dan sekiranya aku ini dikembalikan kepada Tuhanku, maka sesungguhnya aku memiliki kebajikan disisi-Nya.” (QS. Fushshilat: 50)

Mereka menduga akan memperoleh kenikmatan yang melimpah di alam akhirat dengan jalan mengerahkan segenap tenaga mereka di alam tersebut, atau menduga bahwa kenikmatan yang mereka peroleh di dunia ini menunjukkan adanya kasih sayang Ilahi yang khusus terhadap diri mereka, dan di akhirat kelak kasih sayang tersebut akan mereka peroleh juga, sebagaimana hal itu mereka peroleh di alam dunia, dengan alasan bahwa sebelumnya mereka telah memperolehnya, yakni di alam dunia.

Jelasnya, seseorang yang percaya bahwa alam akhirat itu merupakan alam yang mandiri dan sama sekali terpisah dari alam dunia, dan amal kebaikan dan keburukan di alam dunia ini tidak berpengaruh pada kenikmatan dan siksa di alam akhirat kelak, ia sama sekali tidak beriman kepada Ma'ad yang merupakan prinsip akidah pada seluruh agama samawi. Sebab, prinsip ini ditopang oleh adanya pahala dan siksa atas amal perbuatan di dunia.

Oleh karena itu, dunia diibaratkan selaksa pasar, tempat jual-beli, berniaga, dan tempat bercocok tanam untuk akhirat. Maka seharusnya bagi setiap manusia mengerahkan segenap potensinya di dunia ini untuk beramal dan bercocok tanam, agar ia memperoleh keuntungan dan hasil yang abadi di akhirat. Inilah yang diperlihatkan oleh dalil-dalil akal Ma'ad dan ayat-ayat Al-Qur’an yang tidak dijelaskan yang lebih banyak lagi.

Kenikmatan Dunia dan Kebahagiaan Akhirat

Sebagian orang percaya bahwa harta benda, anak-anak, dan sarana kehidupan yang menyenangkan di alam dunia ini akan membuat mereka tentram, damai dan akan memperoleh kenikmatan di akhirat. Barangkali memendam emas, perak, dan permata yang berharga, bahkan juga sebagian bahan makanan, bersama orang yang telah mati adalah akibat dari kepercayaan semacam ini.

Al-Qur’an menekankan bahwa harta benda, dan anak-anak itu sendiri (terlepas dari sikap manusia terhadapnya) tidak menyebabkan dekatnya seseorang kepada Allah, tidak pula sama sekali berpengaruh positif bagi seseorang di alam akhirat kelak. Di alam tersebut akan terputus seluruh hubungan, sebab-sebab dan berbagai ikatan duniawi. Setiap orang akan meninggalkan berbagai kekayaannya dan segala hal yang berhubungan dengannya. Ia akan digiring di hadapan Allah seorang diri. Ketika itu, tidak tersisa lagi ikatan apa pun selain ikatan maknawi dengan Allah SWT.

Maka itu, orang-orang mukmin yang menjalin ikatan dengan istri-istri, putra-putri, dan sanak-kerabat mereka berdasarkan iman akan berkumpul kembali bersama-sama di dalam surga.

Kesimpulannya, ikatan dan hubungan antara dunia dan akhirat bukanlah seperti hubungan dan ikatan antara makhluk di alam dunia ini, tidak pula seperti yang diduga oleh sebagian orang bahwa apabila seseorang di alam dunia ini lebih banyak kekuatan, kelezatan, kenikmatan, kekayaan dan keindahannya, ia akan digiring dalam keadaan yang sama di akhirat nanti. Jika memang demikian, orang seperti Fir’aun dan Qarun akan lebih banyak memperoleh kebahagiaan di alam akhirat. Yang jelas, sebagian orang yang hidupnya di alam dunia ini mengalami kelelahan, kepayahan, dan kesengsaraan, namun hanya karena usahanya melakukan kewajiban-kewajiban Ilahi, mereka itu akan digiring dalam keadaan selamat, mulia, penuh keindahan dan kekuatan, akan memperoleh kenikmatan abadi di alam akhirat kelak.

Sebagian orang-orang yang bodoh mengira bahwa ayat yang berbunyi, “Dan barang siapa yang buta di alam dunia ini, maka di alam akhirat pun ia akan buta dan sesat dari jalan yang benar.” (QS. Al-Isra': 72) mengandung hubungan positif. Arti-nya, keselamatan dan kenikmatan duniawi melazimkan keselamatan dan kenikmatan akhirat. Mereka lalai bahwa maksud dari “buta” di dalam ayat ini bukan berarti buta lahiriyah, akan tetapi “buta mata hati”, sebagaimana disinggung dalam ayat lain, “Sesungguhnya pandangan mata itu tidak buta, akan tetapi yang buta adalah pandangan hati yang ada di dalam dada.” (QS. Al-Hajj: 46)

Di ayat lain, Allah SWT berfirman, “Barang siapa yang berpaling dari mengingat Kami maka ia akan mengalami kehidupan yang sempit dan akan Kami bangkitkan di hari kiamat dalam keadaan buta. Ia berkata, 'Wahai Tuhanku, mengapa Engkau bangkitkan kami dalam keadaan buta, Padahal sebelumnya aku melihat?' Kemudian Dia berfirman, 'Demikianlah ketika datang ayat-ayat Kami, kemudian engkau melupakannya dan demikian pula engkau pada hari ini dilupakan.” (QS. Thaha: 124-126)

Jadi, sebab kebutaan di alam tersebut lantaran melupakan ayat-ayat Ilahi di dunia ini, bukan karena buta mata di kepala. Dengan demikian, hubungan antara dunia dan akhirat bukanlah hubungan antara sebab-sebab dunia, akan tetapi suatu bentuk hubungan yang khas.

Kenikmatan Duniawi tidak Berarti Kesengsaraan Ukhrawi.

Sebagian orang malah percaya bahwa ada hubungan terbalik antara kenikmatan-kenikmatan dunia dan kenikmatan-kenikmatan akhirat, yaitu bahwa orang-orang yang akan memperoleh kebahagian akhirat adalah mereka yang tidak mendapatkan kenikmatan dunia. Begitu pula sebaliknya, yaitu mereka yang memperoleh kenikmatan dunia yang melimpah ruah, tidak akan memperoleh kebahagiaan akhirat.

Sehubungan dengan ini, mereka menggunakan sebagian ayat Al-Qur’an dan riwayat-riwayat yang menunjukkan bahwa penyembah dunia tidak akan mendapatkan keuntungan apapun di akhirat. Mereka lalai bahwa mencari dunia dan terikat olehnya tidak berarti memenuhi kenikmatan dunia. Tetapi sesungguhnya "pencari dunia" adalah orang yang menjadikan kenikmatan duniawi sebagai tujuan utama usaha dan perbuatannya. Dan mereka telah mengerahkan segenap wujudnya untuk memperoleh kelezatan tersebut walaupun secara faktual mereka belum memperolehnya.

Adapun "pencari akhirat" adalah orang yang hatinya tidak terikat sedikit pun oleh kesenangan-kesenangan duniawi, tujuan hidupnya hanyalah akhirat, meskipun mereka banyak memperoleh kenikmatan-kenikmatan dunia, seperti Nabi Sulaiman as dan para wali Allah as, dimana mereka memperoleh kenikmatan-kenikmatan dunia yang begitu banyak, tetapi mereka menggunakannya untuk mencari kebahagiaan akhirat dan keridhaan Allah SWT.

Oleh sebab itu, tidak ada kelaziman antara memperoleh kenikmatan-kenikmatan duniawi dan meraih kenikmatan-kenikmatan ukhrawi, Sebagaimana pula tidak ada hubungan negatif antara keduanya. Akan tetapi kenikmatan-kenikmatan duniawi itu, demikian pula halnya dengan bencana-bencana duniawi, telah ditebarkan di tengah umat manusia berdasarkan pengaturan Ilahi yang bijak. Semua itu Allah jadikan sebagai sarana untuk menguji umat manusia. Memperoleh atau tidak kenikmatan dunia yang melimpah tidaklah menunjukkan dekat-dekatnya seseorang kepada rahmat Ilahi, tidak juga menjanjikan kebahagiaan ataupun kesengsaraan di akhirat.

Kesimpulan

Kesimpulan yang dapat kita ambil dari pembahasan ini ialah bahwa mengingkari hubungan antara dunia dan akhirat sama dengan mengingkari prinsip Ma'ad. Akan tetapi, ini tidak berarti bahwa meyakini adanya hubungan antara kenikmatan dunia dan kenikmatan akhirat, sebagaimana pula tidak adanya hubungan antara kenikmatan dunia dan siksa akhirat, ataupun sebaliknya.

Secara umum dapat dikatakan bahwa hubungan antara dunia dan akhirat bukanlah semacam hubungan antara makhluk-makhluk dunia yang tunduk kepada hukum-hukum fisika dan biologi. Bahkan, yang menyebabkan kebahagiaan atau siksa akhirat itu adalah usaha manusia itu sendiri secara bebas di dunia ini. Usaha ini tidak berarti hanya mengerahkan segenap tenaga dan kemampuan serta menciptakan sebagian perubahan pada hal-hal yang bersifat materi. Akan tetapi, keluarnya tenaga dan usaha itu dilihat dari sisi keimanan atau kekufuran pelakunya.

Inilah yang ditunjukkan ratusan ayat Al-Qur’an yang menekankan bahwa kebahagiaan akhirat itu bergantung pada iman seseorang kepada Allah, Hari Kiamat, para nabi dan mengamalkan berbagai perbuatan yang diridai Allah SWT. seperti: shalat, puasa, jihad, infak, berbuat ihsan (kebaikan) kepada hamba Allah, amar makruf dan nahi munkar, memberantas kekafiran, kejahatan, dan orang-orang zalim, serta menegakkan keadilan.

Al-Qur’an juga menekankan bahwa bencana dan siksa abadi itu disebabkan oleh kekafiran, kesyirikan, kemunafikan, pengingkaran atas Hari Kiamat dan para nabi, serta berbagai maksiat dan kezaliman. Banyak pula ayat yang menekankan secara global bahwa faktor kebahagiaan akhirat itu adalah iman dan amal saleh. Sedang faktor kesengsaraan yang abadi adalah kekafiran dan maksiat.

Senin, 25 Oktober 2010

Perlunya Mengenal Diri sendiri

Perlunya Mengenal Diri sendiri

Terkadang begitu ingin kita mengenal seseorang...sampai lupa untuk mengenali diri kita sendiri... Kenapa ya sering menjadi seperti itu...? Padahal lebih baik kita mengenal diri kita sendiri dulu baru sesudahnya kita mengenal orang lain.... Mengenal orang lain menjadi lebih menarik karena menimbulkan rasa penasaran didalam diri kita... itu yang membuat mengenal diri sendiri menjadi suatu hal yang kurang menarik... bagaimana mau penasaran sedangkan kita berurusan dengan diri kita setiap saat.... Kira-kira apa sih yang harus kita perbuat supaya kita lebih mudah untuk mengenali diri sendiri... Bisa dimulai dengan menyediakan banyak waktu untuk menyimak diri kita... tentang ...,yang sudah dilakukan,...yang sedang dilakukan,.... dan yang akan dilakukan,....

Bila kita berada pada pernyataan yang pertama...yaitu 'yang sudah dilakukan'..., maka otomatis kita akan kembali untuk melihat apa yang sudah terjadi... nah ini berguna untuk media kita memperbaiki diri atas kesalahan dan kekhilafan yang mungkin sudah kita perbuat... yang dapat digunakan untuk menjadi pelajaran supaya kesalahan tersebut tidak kita ulangi diwaktu yang akan datang... Lanjut ke...'yang sedang dilakukan'... kalau ini bisa memudahkan kita untuk mengetahui apa yang kita perlukan untuk menjalani kehidupan sehari-hari... sehingga kita dapat lebih mudah mencukupi apa yang dibutuhkan diri kita setiap harinya. Untuk yang ketiga....tentang 'yang akan dilakukan'.... akan sedikit memaksa diri kita untuk memikirkan masa depan... sehingga kita memiliki cita-cita dan harapan hidup... apalah artinya kehidupan yang kita jalani tanpa memiliki suatu tujuan dan harapan kan....

Tidak sulit untuk mengenali diri kita sendiri... Itulah perlunya kita lebih baik mengenali diri sendiri dulu.... sebelum kita repot-repot mengenal orang lain.... sebab orang yang ingin kita kenali belum tentu mau untuk kita kenali lebih dalam.... malah bisa jadi kita akan mengganggu privasinya... Selain itu dengan belajar mengenali diri kita sendiri... membuat kita akan lebih menghargai diri kita sebagai ciptaanNya yang sempurna... sehingga kita akan selalu teringat untuk mensyukuri segala nikmat yang diberikan olehNya kepada kita masing-masing..... (Nn)

Keinginan Yang Terbatas

Keinginan Yang Terbatas

Keinginan...terkadang membatasi apa yang sebenarnya perlu dilakukan.... Seharusnya lebih baik kita kerjakan dulu apa yang harus dilakukan... baru habis itu kerjakan yang kita inginkan... Idealnya...dahulukan kewajiban baru hak.... Jangan salah sangka dulu lho... ini bicara hak dan kewajiban antar manusia... bukan hak dan kewajiban dengan Maha Pencipta... Kalau bicara yang itu...tidak bisa dibantah lagi.... yang wajib dulu HARUS dikerjakan... soal hak... wah... Subhanallah... tak bisa dihitung kenikmatan yang Dia berikan untuk kita... jadi janganlah kita menuntut hak kita lagi dariNya... karena semua sudah diberikanNya kepada kita dengan kasih sayangNya...

Terus enaknya kita ngapain dong...supaya keinginan kita bisa terpenuhi tapi kewajiban tetap nomor satu dilakukan.... Sebenarnya tergantung juga pada keinginannya... yang pasti memaksakan keinginan kita pada orang lain... itu adalah suatu hal yang tidak mungkin dilakukan... Apalagi memaksakan perasaan seseorang... ada yang pernah nyoba memaksakan perasaan kita ke seseorang...? Berhasil...? Mungkin jawabannya kadang berhasil dan kadang juga tidak kan... Kalau berhasil tapi maksa... enak tidak dijalaninnya....? Pasti tidak enak banget tuh... ada rasa tidak ikhlas untuk kedua pihak dalam menjalankannya... buntutnya malahan jadi apapun yang dikerjakan jadi ga enak... jadi serba salah gitu loh... Yang enak untuk dijalanin tuh...kalau kedua belah pihak ikhlas supaya enak untuk semuanya dan dikerjakannya juga dengan senyum ikhlas....

Lebih baik kita coba berdamai dengan keadaan... dan bicarakan dengan baik setiap kendala yang terjadi antara kedua pihak yang bersangkutan. Apa yang menjadi keinginan masing-masing... dan juga apa yang seharusnya dikerjakan terlebih dahulu sebelum menuntut haknya... sudah berhak atau belum kita menuntut keinginan kita dikabulkan... atau malah keinginan kita tidak dikabulkan oleh orang lain karena ada kewajiban yang belum kita laksanakan... Semua kembali kepada masing-masing orang dan masalah yang dihadapinya... Apabila sudah berusaha maksimal... dan tetap aja nyangkut ditengah masalahnya... berarti sudah diluar kapasitas kita untuk menyelesaikannya.... Kembalikanlah semua permasalahan didalam do'a kita kepadaNya... agar kita dimudahkan dan diberi penyelesaian dalam melalui semua cobaanNya yang terkadang terasa diluar batas kemampuan kita... Ada yang harus selalu kita ingat... bahwa Allah tidak akan memberikan suatu masalah tanpa penyelesaian... hanya terkadang manusianya yang lupa dan tidak menyempatkan diri untuk bertanya kepada Yang Maha Tahu.. (Nn)

Selasa, 12 Oktober 2010

Jalan Menuju Sukses

Jalan Menuju Sukses

Seorang eksekutif muda bertemu dengan seorang guru di sebuah jalan raya. Ia bertanya,
"Guru, yang manakah jalan menuju sukses?" Sang guru terdiam sejenak.
Tanpa mengucapkan sepatah kata, sang guru menunjuk ke arah sebuah jalan. Eksekutif muda itu segera berlari menyusuri jalan yang ditunjukkan sang guru. Ia tak mau membuang-buang waktu lagi untuk meraih kesuksesan. Setelah beberapa saat melangkah tiba-tiba ia berseru,
"Ha! Ini jalan buntu!" Benar, di hadapannya berdiri sebuah tembok besar yang menutupi jalan. Ia terpaku kebingungan,
"Barangkali aku salah mengerti maksud sang guru."
Eksekutif muda itu berbalik menemui sang guru untuk menanyakan sekali lagi,
"Guru, yang manakah jalan menuju sukses." Sang guru menunjuk ke arah yang sama.
Eksekutif muda itu berjalan ke arah itu lagi. Namun yang ditemuinya tetap saja sebuah tembok yang menutupi jalan. Ia merasa dipermainkan. Dengan penuh amarah ia menemui sang guru,
"Guru, aku sudah menuruti petunjukmu. Tetapi yang aku temui adalah sebuah jalan buntu. Aku tanyakan sekali lagi padamu, yang manakah jalan menuju sukses? Kau jangan hanya menunjukkan jari saja, tetapi bicaralah!"
Akhirnya sang guru berbicara, "Di situlah jalan menuju sukses. Hanya beberapa langkah saja di balik tembok itu."
Pojok Renungan : Keberhasilan seringkali tak tampak karena ia bersembunyi di balik kesulitan. Cuma orang-orang yang mampu mendaki "tembok" itulah yang akan menemui keberhasilan.

Selasa, 10 Agustus 2010

**DOA SAPU JAGAD**

**DOA SAPU JAGAD**


Mengapa ada istilah do'a sapu jagad...?
Apa dan bagaimana perannya...?


Begitu populernya do'a ini. Sebuah do'a yang tertera dalam kitab suci
Al-Qur'an, surat Al-Baqarah ayat 201. Di dalam kegiatan manasik haji, do'a ini
menjadi idola para calon jamaah haji. Maklum dengan hafal do'a ini, konon akan
mempermudah para jama'ah dalam melakukan aktivitas perjalanan hajinya.


Do'a ini mampu mengganti do'a-do'a lain, yang begitu banyak tersebar dalam
setiap aktivitas di tanah haram. Begitu populernya do'a ini, sehingga setiap
orang ketika melakukan do'a untuk memohon sesuatu kepada Allah, baik secara
pribadi maupun secara kolektif, selalu ditutup dengan do'a ini.


QS. Al-Baqarah (2) : 200 - 202
Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah hajimu, maka berzikirlah kepada
Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyangmu, atau berzikir lebih
banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang berdo'a: "Ya Tuhan kami,
berilah kami (kebaikan) di dunia", dan tiadalah baginya bahagian di akhirat.
Dan di antara mereka ada orang yang berdo'a: "Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa
neraka". Mereka itulah orang-orang yang mendapat bahagian dari apa yang mereka
usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.



Sungguh sangat layak do'a ini disebut sebagai doa 'sapu jagad' atau doa
universal, sebab :


1. Jangkauannya kini & nanti (dunia & akhirat)
Apa yang diinginkan oleh do'a ini memiliki jangkauan yang sangat luas. Isi
dalam do'a ini tidak menginginkan suatu yang bersifat materi, tetapi lebih
kepada sesuatu yang memiliki makna lebih penting, lebih luas, lebih menyeluruh,
dengan masa yang sangat panjang. Tidak terbatas pada kehidupan dunia saja
tetapi, menjangkau pada kehidupan akhir yang lebih abadi, lebih kekal, dan
lebih indah dibanding dengan kehidupan kini.


QS. Al-A¡¯laa (87) : 16-17
Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan
akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.


QS. Qashash (28) : 77
Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan, janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan)
duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat
baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi.
Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.


Meskipun urusan duniawi begitu kecilnya dibandingkan dengan urusan akhirat,
tetapi tetap urusan duniawi jangan dilupakan. Karena melalui dunia inilah
keberhasilan akhirat akan kita dapatkan.




2. Mengapa formulasinya dunia lebih dahulu?
Apakah lebih penting dunia dibanding akhirat?
Seseorang bertanya dalam suatu diskusi agama.
¡°Apabila akhirat lebih penting, mengapa di dalam kita berdo'a, yang
diucapkan lebih dahulu, atau yang diminta lebih dahulu adalah kebahagiaan
dunia? Bukan kebahagiaan akhirat? Apa maksudnya?¡±


Maka dengan bijaksana, sang ustadz-pun menjawab:
¡°Benar, bahwa akhirat itu memang lebih penting. Dengan didahulukannya
sebutan dunia, bukan 'berarti dunia yang lebih penting, tetapi justru
akhirat-lah yang jauh lebih penting.¡±


Lanjut pak Ustadz :
¡°Rasul pernah mengatakan bahwa hidup ini bagaikan garis lurus. Jika anda
yakin seperti apa yang disampaikan Rasulullah, maka sebenarnya dunia dan
akhirat berada pada satu garis lurus. Artinya kita akan bertemu dengan akhirat
setelah kita melalui dunia ini.¡±


Dengan kata lain, jika yang kita tuju hanya dunia saja, kita tidak akan
bertemu dengan akhirat. Karena letaknya akhirat di ujung perjalanan. Sebaliknya
jika yang kita tuju adalah kehidupan akhirat, kita pasti akan bertemu dan
melewati dunia." "Hal itu dikarenakan posisi dunia berada pada jarak yang lebih
dekat, sementara akhirat berada pada penghujung perjalanan manusia...."
"...alhamdulillaah, saya mengerti ustadz, terima kasih..." jawab sang penanya.


3. Perbandingan dunia dan akhirat?
Selain masalah sebutan yang mendulukan dunia daripada akhirat, perbandingan
dunia dan akhirat selalu saja menjadi bahan pembicaraan dalam setiap diskusi.


Kata seseorang peserta diskusi :
"Dunia ini begitu luasnya, bumi tak ada artinya dibanding dengan besarnya
alam semesta raya yang sulit diukur batasnya. Lalu bagaimana dengan kehidupan
akhirat nanti? Seberapa luas kehidupan akhirat nanti?"


Pak Ahmad, sebagai salah satu peserta diskusi mencoba menjawabnya :"...tentu
kita tidak bisa mengukur secara pasti luasnya negeri akhirat, tetapi saya
teringat kata rasulullah saw, bahwa perbandingan dunia dengan akhirat seperti
setetes air yang jatuh dari ujung jari kita ke dalam samudera. Sementara air
yang ada di samudera itulah akhirat nanti...!


Berarti benar-benar kehidupan dunia yang nampaknya luas dan besar ini, tidak
ada artinya sama sekali, dibanding dengan kehidupan akhirat. Yang jauh lebih
luas, jauh lebih kekal, jauh lebih abadi, dan jauh lebih indah..." Peserta
diskusinya pun membenarkan pendapatnya.


Begitu pendapatnya disetujui oleh peserta lain, Ahmad pun membuka Al-Qur'an
yang ada di tangannya, dan ia mengutip sebuah ayat Al-qur'an yang berbunyi :


Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan
suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta
berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang
tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering
dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di ahirat (nanti)
ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan
dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
(QS. Al-Hadiid 57 : 20)


4. Digunakan sebagai penutup do'a
Disebut do'a sapu jagad, karena do'a ini telah disepakati oleh para ulama,
bahwa berdo'a tanpa do'a ini rasanya tidak lengkap. Bahkan begitu populernya
do¡¯a sapu jagad ini, sampai seorang non Islam yang bekerja sebagai fotografer
pada suatu acara pernikahan, ia hafal betul. Setelah pak ustadz membaca do¡¯a
"Rabbanaa aatina fiddunya hasanah..."ini, sang fotografer pun mengetahui bahwa
do'a telah menjelang selesai. Dan ia siap bertugas untuk memotret acara
berikutnya.


Pak Robert sang juru potret itu, ketika ditanya oleh seseorang yang kebetulan
duduk di sebelahnya, mengapa ia mengetahui bahwa do'a pada acara itu sudah
menjelang selesai? ia menjawab :
"wah, saya sudah hafal betul. Do'a sepanjang apa pun menurut pengalaman saya,
jika sudah sampai pada do'a tersebut berarti do'a sudah hampir selesai."
Katanya.


5. Tidak berani minta surga
Satu hal yang perlu kita ingat dan kita renungkan, ialah bahwa dalam do'a ini
kita tidak diajari untuk meminta surga. Sementara dalam kehidupan kita
sehari-hari apabila kita bertanya pada setiap orang, apa yang mereka inginkan
jika mereka berbuat baik? Mungkin lebih dari sembilan puluh persen mereka akan
mengatakan minta surga. Tetapi do'a sapujagad ini, do'a yang paling dihafal
oleh seluruh umat Islam ini adalah do'a yang di dalamnya tidak mengajarkan
untuk minta surga. Ada apa gerangan? Mengapa?


Dari seluruh ayat Al-Qur'an yang di dalamnya terdapat kata-kata surga, tidak
satu pun ayat yang mengatakan bahwa manusia dengan perbuatan baiknya yang telah
dilakukan ketika hidup di dunia, dengan sendirinya ia akan masuk surga. Tetapi
yang ada di dalam Al-Qur'an ialah bahwa Allah-lah yang akan memasukkan surga
kepada siapa yang dikehendakiNya. Allah menggunakan kekuasaanNya, dan akan
memasukkan surga kepada siapa saja yang dikehendakiNya. Surga adalah milik
Allah. Surga adalah sebuah hadiah dari Allah bagi orang yang berhasil dalam
perjuangannya ketika di dunia.


Surga adalah tempat kenikmatan yang diberikan oleh Allah Swt. Surga bukan ada
dengan sendirinya. Surga bukan tujuan akhir bagi seorang hamba. Sebab tujuan
akhir dari perjalanan manusia adalah Allah Swt. Dzat Yang Maha Indah, Yang Maha
Perkasa, Yang Maha Bijaksana, Raja di hari kemudian, Dialah Allah Azza walla,
Dzat Yang Maha segala Maha.... Yang hanya kepadaNya semua
akan kembali.


QS. At-Taubah (9) : 21
Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya,
keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal,


QS. An-Nisa' (4) :13
Hukum-hukum tersebut itu adalah ketentuan-ketentuan dari Allah. Barangsiapa
taat kepada Allah dan Rasul-Nya, niscaya Allah memasukkannya ke dalam surga
yang mengalir di dalamnya sungai-sungai, sedang mereka kekal di dalamnya; dan
itulah kemenangan yang besar.


QS.Al-Insan (76) : 31
Dia memasukkan siapa yang dikehendakiNya ke dalam rahmat-Nya (surga). Dan
bagi orang-orang zalim disediakan-Nya azab yang pedih.


6. Yang diminta dalam do'a sapu jagad
Dalam do'a tersebut yang diharapkan dan diminta oleh seorang hamba kepada
Tuhannya ada tiga aspek utama. Yang hal tersebut secara eksplisit lebih
dipentingkan dari pada surga.


1. Dunia yang Khasanah
Apakah dunia yang khasanah itu? Dunia yang khasanah adalah kehidupan dunia
yang menentramkan hati, yang menjadikan jiwa menjadi tenang dan damai. Merasa
cukup dengan apa yang dimilikinya. Bisa sabar terhadap ujian dan cobaan yang
menimpa, serta selalu bersyukur terhadap nikmat yang yang diberikan.


QS. Al-Fajr (89) : 27-30
Hai jiwa yang tenang. Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi
diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam jama'ah hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke
dalam surga-Ku.


2. Akhirat yang Khasanah
Apakah akhirat yang khasanah itu? Kehidupan di hari akhir nanti tak ada
pilihan lain kecuali surga atau neraka. Surga adalah tempat balasan bagi
orang-orang yang berhasil dalam kehidupannya. Ia telah sukses menjalankan
perintah Allah, dan dengan rela ia meninggalkan larangan-laranganNya.


Sementara neraka adalah tempat siksa bagi orang-orang yang ingkar kepada
Allah. Mereka selalu melakukan perbuatan yang dilarangNya dan tidak pernah
menjalankan apa yang diperintahkanNya.


Di alam akhirat nanti, orang-orang yang mendapatkan akhirat khasanah, mereka
betul-betul bahagia. Selain mendapatkan surga yang telah dijanjikan Allah,
mereka juga bertemu dengan Allah swt dalam keadaan bahagia.


QS. Al-Hasyr (59) : 20
Tiada sama penghuni-penghuni neraka dengan penghuni-penghuni surga;
penghuni-penghuni surga itulah orang-orang yang beruntung.


QS.Al-Kahfi (18) : 31
Mereka itulah (orang-orang yang) bagi mereka surga 'Adn, mengalir
sungai-sungai di bawahnya; dalam surga itu mereka dihiasi dengan gelang emas
dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang
mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala
yang sebaik-baiknya, dan tempat-istirahat yang indah;


QS. Ali-Imran (3) : 12
Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: "Kamu pasti akan dikalahkan (di
dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan itulah tempat yang
seburuk-buruknya".


3. Terhindar dari siksa api neraka
Neraka, adalah seburuk-buruknya tempat kembali. Demikian informasi dari
Al-Qur'an al Karim. Bahkan bahan bakarnya terdiri dari manusia dan batu. uih,
begitu menggiriskan...tentu saja sebagai hamba yang beriman kita mohon untuk
dihindarkan dari siksa neraka ini. Karenanya do'a sapu jagad tersebut,
betul-betul do'a yang tepat, yang universal, yang dipakai untuk penutup dari
segala do'a.
QS. Ali-Imran (3) : 10
Sesungguhnya orang-orang yang kafir, harta benda dan anak-anak mereka,
sedikitpun tidak dapat menolak (siksa) Allah dari mereka. Dan mereka itu adalah
bahan bakar api neraka,


QS. Ali-Imran (3) : 192
Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka,
maka sungguh, telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang
zalim seorang penolongpun.


7. Yang penting adalah mendapat ampunanNya
Mohon ampun adalah salah satu sifat dari orang yang taqwa. Di dalam Al-Qur'an
disebutkan bagaimana ciri-ciri orang yang bertaqwa yang selalu mohon ampunan
Allah


QS. An-Nisa' (4) : 106
dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.


QS. An-Nisa' (4) : 110
Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian
ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.


QS. Ali-Imran (3) : 17
(yaitu) orang-orang yang sabar, yang benar, yang tetap ta'at, yang
menafkahkan hartanya (di jalan Allah), dan yang memohon ampun di waktu sahur.


Bahkan mohon ampun di waktu malam (waktu sahur), merupakan salah satu ciri
istimewa bagi orang yang bertaqwa. Bangun di waktu sepertiga malam ketika
sebagian besar manusia terlelap dalam tidurnya, seorang hamba yang bertaqwa
bangun dari tidurnya. Bergegas ia ke kamar mandi mengambil air wudhu.
Dibasuhnya semua perilaku yang salah, melalui tangannya. Dibasuhnya ucapan yang
sering khilaf melalui mulutnya. Dibasuhnya pandangannya, dibasuhnya nafasnya,
dibasuhnya fikirannya... Dan akhirnya dibasuhnya kedua kakinya dengan maksud
agar langkah kakinya yang sering tak terarah itu menjadi bersih, suci, untuk
menghadap sang Ilahi.


Dan akhirnya setelah semua anggota wudhu' sudah dibasuhnya dengan khusyu, ia
mengangkat kedua tangannya untuk bermunajat kepada Allah:
"Asyhadu an laa ilaaha illallahu wahdahu la syarika lahu, wa asyhadu anna
Muhammad abduhu warasuluhu. Allahummaj'alni minattawwabina, waj'alni minal
mutathahhiriina." (HR. Attirmidzi)


Aku bersaksi bahwa tiada tuhan selain Allah, dan aku bersaksi bahwa Muhammad
adalah utusan Allah. Ya Allah jadikanlah aku sebagai golongan orang-orang yang
bertaubat, dan jadikanlah aku dari golongan orang-orang yang suci.


Dengan wudhu yang semacam itu, maka terasa begitu lapang dada ini. Maka
ketika seorang hamba mengangkat kedua tangannya untuk memulai shalat, yaitu
ketika takbiratul ihram, niscaya hatinya akan terfokus hanya untuk Allah
semata. Bacaan saat itu terasa menggetarkan dada. Dan insya Allah, Allah Swt
sebagai Dzat Yang Maha Pengampun akan memaafkan segala kesalahan hambaNya.


Ampunan adalah kunci surga. Tak ada seorang pun yang bisa masuk surga tanpa
ampunanNya. Sebab manusia selalu berpeluang untuk melakukan kesalahan.


Seorang yang mendapatkan ampunanNya insya Allah jalannya akan lurus. Dan
insya Allah akan mendapat kesuksesan dalam hidupnya. Baik di dunia ini
lebih-lebih dalam kehidupan akhirat nanti.


Sungguh tak seorang pun yang bersih dari khilaf dan salah. Manakala seorang
hamba terlanjur berbuat salah, maka mohon ampun itulah obat mujarabnya. Dengan
bertaubat sebenar-benarnya taubat, insya Allah terbukalah hijab yang menutupi
hatinya. Karena hijab inilah yang membuat manusia menjadi tertutup nuraninya,
sehingga sering berbuat salah. Dan Allah pun, insya Allah akan memberikan
ampunan yang tiada terhingga itu, untuk hamba yang dicintaiNya..

**MANUSIA DIANTARA DUA TANGISAN**

MANUSIA DIANTARA DUA TANGISAN...

Detik waktu bersama kelahiran seorang bayi dihiasi tangisan .Nyaring berkumandang menghiasi telinga si IBU. Merakah tersenyum hatinya gembira penawar sakit dan lesu serta berjuang dengan Maut. Lalu mulailah sebuah kehidupan yang baru didunia dengan sebuat resiko pahit dan kejamnya kehidupan ini, bercucurkan darah dan tetes air mata.
Air mata adakalanya penyubur hati, penawar duka. Adakalanya buih Kekecewaan yang menghimpit perasaan dan kehidupan ini. Air mata seorang manusia hanyalah umpama air kotor diperlimpahan. Namun setetes air mata kerana takut kepada ALLAH persis permata indahnya gemerlapan terpancar dari segala arah dan penjuru. Penghuni Syurga ialah mereka yang banyak mencucurkan air mata Demi ALLAH dan Rasulnya bukan semata karena harta dan kedudukan.
Pencinta dunia menangis kerana dunia yang hilang. Perindu akhirat menangis kerana dunia yang datang.
Alangkah sempitnya kuburku, keluh seorang batil, Alangkah sedikitnya hartaku, kesal si hartawan (pemuja dunia).
Dari mata yang mengitai setiap kemewahan yang mulus penuh rakus, mengalirlah air kecewa kegagalan. Dari mata yang redup merenung Hari Akhirat yang dirasakan dekat, mengalirkan air mata insaf mengharap kemenangan, serta rindu akan RasulNya.
"Penghuni Syurga itulah orang-orang yang menang." (al- Hasr: 20)
Tangis adalah basahan hidup,justeru:Hidup dimulakan dengan tangis, Dicela oleh tangis dan diakhiri dengan tangis.Manusia sentiasa dalam dua tangisan. Sabda Rasulullah s.a.w. "Ada dua titisan yang ALLAH cintai, pertama titisan darah para Syuhada dan titisan air mata yang jatuh kerana takutkan ALLAH."
Nabi Muhammad bersabda lagi : "Tangisan seorang pendosa lebih ALLAH cintai daripada tasbih para wali."
Oleh karena itu berhati-hatilah dalam tangisan, kerana ada tangisan yang akan mengakibatkan diri menangis lebih lama dan ada tangisan yang membawa bahagia untuk selama-lamanya. Seorang pendosa yang menangis kerana dosa adalah lebih baik daripada Abid yang berangan-angan tentang Syurga mana kelak ia akan bertakhta.
Nabi bersabda : "Kejahatan yang diiringi oleh rasa sedih, lebih ALLAH sukai dari satu kebaikan yang menimbulkan rasa takbur."
Ketawa yang berlebihan tanda lalai dan kejahilan. Ketawa seorang ulama dunia hilang ilmu, hilang wibawanya. Ketawa seorang jahil, semakin keras hati dan perasaannya.
Nabi Muhammad bersabda : "Jika kamu tahu apa yang aku tahu nescaya kamu banyak menangis dan sedikit ketawa."
Seorang Hukama pernah bersyair : "Aku heran dan terperanjat,melihat orang ketawa kerana perkara-perkara yang akan menyusahkan,lebih banyak daripada perkara yang menyenangkan."
Salafussoleh menangis walaupun banyak beramal,takut-takut tidak Diterima ibadatnya, kita ketawa walaupun sadar diri kosong daripada amalan.
Lupakah kita
Nabi pernah bersabda : "Siapa yang berbuat dosa dalam ketawa, akan dicampakkan ke neraka dalam keadaan menangis."
Kita gembira jika apa yang kita idamkan tercapai. Kita menangis kalau Yang kita cita-citakan terabai. Nikmat disambut ria, kedukaan menjemput duka.
Namun,Allah s.a.w. telah berfirman : " Boleh jadi kamu membenci sesuatu,padahal ia amat baik bagimu,dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu,pada hal ianya amat buruk bagimu. ALLAH mengetahui sedangkan kamu tidak mengetahui." (AL BAQARAH : 216)
Bukankah Nabi pernah bersabda: "Neraka dipagari nikmat, syurga dipagari bala."
Menangislah wahai diri, agar senyumanmu banyak di kemudian hari. Karena engkau belum tahu, nasibmu dihizab kanan atau hizab kiri.Di sana, lembaran sejarahmu dibuka satu persatu, menyemarakkan rasa malu berabad-abad lamanya bergantung kepada syafaat Rasulullah yang dikasihi Tuhan. Kenangilah, sungai-sungai yang mengalir itu banjiran air mata Nabi Adam yang menangis bertaubat, maka suburlah dan sejahteralah bumi kerana terangkatnya taubat. Menangislah seperti Saidina Umar yang selalu memukul dirinya dengan berkata:
"Kalau semua masuk ke dalam syurga kecuali seorang, aku takut akulah orang itu."
Menangislah sebagaimana Ummu Sulaim apabila ditanya : "Kenapa engkau menangis?" "Aku tidak mempunyai anak lagi untuk saya kirimkan ke medan Perang," jawabnya.
Menangislah sebagaimana Ghazwan yang tidak sengaja terpandang wanita rupawan. Diharamkan matanya dari memandang ke langit seumur hidup,lalu berkata : "Sesungguhnya engkau mencari kesusahan dengan pandangan itu."
Ibnu Masud r.a.berkata : "Seorang yang mengerti al Quran dikenali waktu malam ketika orang lain tidur,dan waktu siangnya ketika orang lain tidak berpuasa, sedihnya ketika orang lain sedang gembira dan tangisnya di waktu orang lain tertawa. Diamnya di waktu orang lain berbicara, khusuknya di waktu orang lain berbangga, seharusnya orang yang mengerti al Quran itu tenang,lunak dan tidak boleh menjadi seorang yang keras, kejam, lalai, bersuara keras dan marah.
Tanyailah orang-orang soleh mengapa dia tidak berhibur : "Bagaimana hendak bergembira sedangkan mati itu di belakang kami,kubur di hadapan kami,kiamat itu janjian kami, neraka itu memburu kami dan perhentian kami ialah ALLAH."
Menangislah di sini, sebelum menangis di sana!!!.............
Wallahu a'lam...

"Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia "

Tujuh Indikator Kebahagiaan Dunia

Ibnu Abbas ra. adalah salah seorang sahabat Nabi SAW yang sangat telaten dalam menjaga dan melayani Rasulullah SAW, dimana ia pernah secara khusus didoakan Rasulullah SAW, selain itu pada usia 9 tahun Ibnu Abbas telah hafal Al-Quran dan telah menjadi imam di mesjid. Suatu hari ia ditanya oleh para Tabi’in (generasi sesudah wafatnya Rasulullah SAW) mengenai apa yang dimaksud dengan kebahagiaan dunia. Jawab Ibnu Abbas ada 7 (tujuh) indikator kebahagiaan dunia, yaitu :

Pertama, Qalbun syakirun atau hati yang selalu bersyukur.
Memiliki jiwa syukur berarti selalu menerima apa adanya (qona’ah), sehingga tidak ada ambisi yang berlebihan, tidak ada stress, inilah nikmat bagi hati yang selalu bersyukur. Seorang yang pandai bersyukur sangatlah cerdas memahami sifat-sifat Allah SWT, sehingga apapun yang diberikan Allah ia malah terpesona dengan pemberian dan keputusan Allah. Bila sedang kesulitan maka ia segera ingat sabda Rasulullah SAW yaitu “Kalau kita sedang sulit perhatikanlah orang yang lebih sulit dari kita”. Bila sedang diberi kemudahan, ia bersyukur dengan memperbanyak amal ibadahnya, kemudian Allah pun akan mengujinya dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Bila ia tetap bandel dengan terus bersyukur maka Allah akan mengujinya lagi dengan kemudahan yang lebih besar lagi. Maka berbahagialah orang yang pandai bersyukur!

Kedua. Al azwaju shalihah, yaitu pasangan hidup yang sholeh.
Pasangan hidup yang sholeh akan menciptakan suasana rumah dan keluarga yang sholeh pula. Di akhirat kelak seorang suami (sebagai imam keluarga) akan diminta pertanggungjawaban dalam mengajak istri dan anaknya kepada kesholehan. Berbahagialah menjadi seorang istri bila memiliki suami yang sholeh, yang pasti akan bekerja keras untuk mengajak istri dan anaknya menjadi muslim yang sholeh. Demikian pula seorang istri yang sholeh, akan memiliki kesabaran dan keikhlasan yang luar biasa dalam melayani suaminya, walau seberapa buruknya kelakuan suaminya. Maka berbahagialah menjadi seorang suami yang memiliki seorang istri yang sholeh.

Ketiga, al auladun abrar, yaitu anak yang soleh.
Saat Rasulullah SAW lagi thawaf. Rasulullah SAW bertemu dengan seorang anak muda yang pundaknya lecet-lecet. Setelah selesai thawaf Rasulullah SAW bertanya kepada anak muda itu : “Kenapa pundakmu itu ?” Jawab anak muda itu : “Ya Rasulullah, saya dari Yaman, saya mempunyai seorang ibu yang sudah udzur. Saya sangat mencintai dia dan saya tidak pernah melepaskan dia. Saya melepaskan ibu saya hanya ketika buang hajat, ketika sholat, atau ketika istirahat, selain itu sisanya saya selalu menggendongnya”. Lalu anak muda itu bertanya: ” Ya Rasulullah, apakah aku sudah termasuk kedalam orang yang sudah berbakti kepada orang tua ?” Nabi SAW sambil memeluk anak muda itu dan mengatakan: “Sungguh Allah ridho kepadamu, kamu anak yang soleh, anak yang berbakti, tapi anakku ketahuilah, cinta orangtuamu tidak akan terbalaskan olehmu”. Dari hadist tersebut kita mendapat gambaran bahwa amal ibadah kita ternyata tidak cukup untuk membalas cinta dan kebaikan orang tua kita, namun minimal kita bisa memulainya dengan menjadi anak yang soleh, dimana doa anak yang sholeh kepada orang tuanya dijamin dikabulkan Allah. Berbahagialah kita bila memiliki anak yang sholeh.

Keempat, albiatu sholihah, yaitu lingkungan yang kondusif untuk iman kita.
Yang dimaksud dengan lingkungan yang kondusif ialah, kita boleh mengenal siapapun tetapi untuk menjadikannya sebagai sahabat karib kita, haruslah orang-orang yang mempunyai nilai tambah terhadap keimanan kita. Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah menganjurkan kita untuk selalu bergaul dengan orang-orang yang sholeh. Orang-orang yang sholeh akan selalu mengajak kepada kebaikan dan mengingatkan kita bila kita berbuat salah. Orang-orang sholeh adalah orang-orang yang bahagia karena nikmat iman dan nikmat Islam yang selalu terpancar pada cahaya wajahnya. Insya Allah cahaya tersebut akan ikut menyinari orang-orang yang ada disekitarnya. Berbahagialah orang-orang yang selalu dikelilingi oleh orang-orang yang sholeh.

Kelima, al malul halal, atau harta yang halal.
Paradigma dalam Islam mengenai harta bukanlah banyaknya harta tetapi halalnya. Ini tidak berarti Islam tidak menyuruh umatnya untuk kaya. Dalam riwayat Imam Muslim di dalam bab sadaqoh, Rasulullah SAW pernah bertemu dengan seorang sahabat yang berdoa mengangkat tangan. “Kamu berdoa sudah bagus”, kata Nabi SAW, “Namun sayang makanan, minuman dan pakaian dan tempat tinggalnya didapat secara haram, bagaimana doanya dikabulkan. Berbahagialah menjadi orang yang hartanya halal karena doanya sangat mudah dikabulkan Allah. Harta yang halal juga akan menjauhkan setan dari hatinya, maka hatinya semakin bersih, suci dan kokoh, sehingga memberi ketenangan dalam hidupnya. Maka berbahagialah orang-orang yang selalu dengan teliti menjaga kehalalan hartanya.

Keenam, Tafakuh fi dien, atau semangat untuk memahami agama.
Semangat memahami agama diwujudkan dalam semangat memahami ilmu-ilmu agama Islam. Semakin ia belajar, maka semakin ia terangsang untuk belajar lebih jauh lagi ilmu mengenai sifat-sifat Allah dan ciptaan-Nya. Allah menjanjikan nikmat bagi umat-Nya yang menuntut ilmu, semakin ia belajar semakin cinta ia kepada agamanya, semakin tinggi cintanya kepada Allah dan rasul-Nya. Cinta inilah yang akan memberi cahaya bagi hatinya. Semangat memahami agama akan menghidupkan hatinya, hati yang hidup adalah hati yang selalu dipenuhi cahaya nikmat Islam dan nikmat iman. Maka berbahagialah orang yang penuh semangat memahami ilmu agama Islam.

Ketujuh, yaitu umur yang baroqah.
Umur yang baroqah itu artinya umur yang semakin tua semakin sholeh, yang setiap detiknya diisi dengan amal ibadah. Seseorang yang mengisi hidupnya untuk kebahagiaan dunia semata, maka hari tuanya akan diisi dengan banyak bernostalgia (berangan-angan) tentang masa mudanya, iapun cenderung kecewa dengan ketuaannya (post-power syndrome). Disamping itu pikirannya terfokus pada bagaimana caranya menikmati sisa hidupnya, maka iapun sibuk berangan-angan terhadap kenikmatan dunia yang belum ia sempat rasakan, hatinya kecewa bila ia tidak mampu menikmati kenikmatan yang diangankannya. Sedangkan orang yang mengisi umurnya dengan banyak mempersiapkan diri untuk akhirat (melalui amal ibadah) maka semakin tua semakin rindu ia untuk bertemu dengan Sang Penciptanya. Hari tuanya diisi dengan bermesraan dengan Sang Maha Pengasih. Tidak ada rasa takutnya untuk meninggalkan dunia ini, bahkan ia penuh harap untuk segera merasakan keindahan alam kehidupan berikutnya seperti yang dijanjikan Allah. Inilah semangat hidup orang-orang yang baroqah umurnya, maka berbahagialah orang-orang yang umurnya baroqah.
Demikianlah pesan-pesan dari Ibnu Abbas ra. mengenai 7 indikator kebahagiaan dunia.
Bagaimana caranya agar kita dikaruniakan Allah ke tujuh buah indikator kebahagiaan dunia tersebut ? Selain usaha keras kita untuk memperbaiki diri, maka mohonlah kepada Allah SWT dengan sesering dan se-khusyu mungkin membaca doa sapu jagat , yaitu doa yang paling sering dibaca oleh Rasulullah SAW. Dimana baris pertama doa tersebut Rabbanaa aatina fid dun-yaa hasanaw (yang artinya Ya Allah karuniakanlah aku kebahagiaan dunia), mempunyai makna bahwa kita sedang meminta kepada Allah ke tujuh indikator kebahagiaan dunia yang disebutkan Ibnu Abbas ra, yaitu hati yang selalu syukur, pasangan hidup yang soleh, anak yang soleh, teman-teman atau lingkungan yang soleh, harta yang halal, semangat untuk memahami ajaran agama, dan umur yang baroqah.
Walaupun kita akui sulit mendapatkan ketujuh hal itu ada di dalam genggaman kita, setidak-tidaknya kalau kita mendapat sebagian saja sudah patut kita syukuri.
Sedangkan mengenai kelanjutan doa sapu jagat tersebut yaitu wa fil aakhirati hasanaw (yang artinya dan juga kebahagiaan akhirat), untuk memperolehnya hanyalah dengan rahmat Allah. Kebahagiaan akhirat itu bukan surga tetapi rahmat Allah, kasih sayang Allah. Surga itu hanyalah sebagian kecil dari rahmat Allah, kita masuk surga bukan karena amal soleh kita, tetapi karena rahmat Allah.
Amal soleh yang kita lakukan sepanjang hidup kita (walau setiap hari puasa dan sholat malam) tidaklah cukup untuk mendapatkan tiket masuk surga. Amal soleh sesempurna apapun yang kita lakukan seumur hidup kita tidaklah sebanding dengan nikmat surga yang dijanjikan Allah.
Kata Nabi SAW, Amal soleh yang kalian lakukan tidak bisa memasukkan kalian ke surga. Lalu para sahabat bertanya: Bagaimana dengan Engkau ya Rasulullah ?. Jawab Rasulullah SAW : Amal soleh saya pun juga tidak cukup. Lalu para sahabat kembali bertanya : Kalau begitu dengan apa kita masuk surga?. Nabi SAW kembali menjawab : Kita dapat masuk surga hanya karena rahmat dan kebaikan Allah semata.
Jadi sholat kita, puasa kita, taqarub kita kepada Allah sebenarnya bukan untuk surga tetapi untuk mendapatkan rahmat Allah. Dengan rahmat Allah itulah kita mendapatkan surga Allah (Insya Allah, Amiin).

"Sebuah Renungan Kecil"

Sebuah Renungan Kecil

Di pagi hari yang cerah ini, mungkin diawali dengan sebuah renungan kecil yang semoga bisa menginspirasi.
Kawan, kita semua memiliki jatah waktu yang sama, apakah kita sudah menyediakan dan membagi waktu kita? Coba renungkan sejenak… Awali dengan bismillahirrahmanirrahim, berarti Anda telah melaksanakan sebuah kegiatan yang baik atas nama Yang Maha Esa.
Sediakan waktu untuk berpikir dengan awalan bismillah, agar selalu mendapat hikmah dan hasil yang terbaik.
Sediakan waktu untuk bermain dengan awalan bismillah, itulah rahasia keceriaan dan awet muda.
Sediakan waktu untuk membaca dengan awalan bismillah, itulah landasan hikmat, pengetahuan & kebijaksanaan yang bermanfaat.
Sediakan waktu untuk berteman dan bersahabat dengan awalan bismillah, itulah jalan menuju keharmonisan abadi.
Sediakan waktu untuk bermimpi dengan awalan bismillah, itulah yang membawa Anda dan mempermudah menggappai bintang.
Sediakan waktu untuk mencintai dan dicintai dengan awalan bismillah, itulah sumber kekerabatan dan relasi yang sejati.
Sediakan waktu untuk melihat sekeliling anda dengan awalan bismillah, hari anda terlalu singkat untuk mementingkan diri sendiri, berkontribusilah untuk orang lain.
Sediakan waktu untuk bekerja dengan awalan bismillah, itulah sumber kebahagiaan.
Sediakan waktu untuk tersenyum dan tertawa, itulah musik jiwa.
Sediakan waktu selalu untuk Allah, sehingga setelah meninggal menemukan tempat terbaik untuk bersanding di sisiNya.
Salam Sukses! Jadikan Hari ini hari yang penuh makna!

Selasa, 20 Juli 2010

"Kiat Sukses: Semua Menjadi Kecil"

Kiat Sukses: Semua Menjadi Kecil
Sebuah artikel yang cukup menarik yang membahas tentang mengangungkan Allah dan semuanya menjadi kecil. Hanya Allah yang Mahabesar, yang lain kecil. Tentu saja kenyataan ini akan memberikan suatu mindset kepada kita yang akan menjadi landasan kita dalam menjalani hidup.
Dalam artikel diatas (silahkan baca), dijelaskan bagaimana mengagungkan Allah akan menjadi bekal hidup kita. Dunia akan terlihat begitu kecil. Tidak ada lagi yang perlu ditakuti di dunia ini karena semuanya begitu kecil, ditambah lagi dengan kenyataan kalau hidup di dunia ini adalah fana.
Saat kita melihat bahwa dunia ini kecil, penglihatan ini akan menjadi bekal kita dalam meraih sukses dunia akhirat. Ada dua hal yang perlu kita sadari.
Pertama. Dunia begitu kecil memberikan peringatan bagi kita, bahwa kita jangan HANYA mencari dunia saja. Dunia tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat. Sungguh, sebuah kerugian besar jika kita HANYA konsentrasi untuk dunia saja. Kita perlu memiliki visi sukses dunia akhirat.
Mengapa saya menulis kata “HANYA” dengan huruf besar? Ini sebagai penekanan bahwa yang tidak boleh itu adalah kita HANYA memiliki tujuan dunia saja. Namun jika kita memiliki tujuan dunia (tanpa hanya), itu adalah boleh bahkan harus selama dalam rangka meraih tujuan akhirat.
Kedua. Saat kita melihat dunia begitu kecil, bukan berarti kita harus menjauhi dunia. Justru harus memberikan motivasi tersendiri bagi kita bahwa untuk mendapatkan dunia itu adalah mudah. Jika kita merasa sulit mendapatkan dunia, artinya ada masalah dengan diri kita. Bukan dunia yang besar, tetapi diri kita yang terlalu kecil dibanding dunia.
Melihat dunia yang “kecil” artinya kita memiliki pikiran yang besar. Kita memiliki pikiran yang positif tentang meraih keberhasilan dunia. Orang yang berpikiran positif tidak akan pernah mengatkan bahwa untuk meraih keberhasilan dunia ini berat atau sulit. Jika kita masih melihat bahwa untuk meraih keberhasilan itu sangat sulit, artinya kita perlu membenahi pikiran kita.
Orang yang berpikiran positif akan memiliki suatu pola pikir: “Jika Allah yang Mahabesar menghendaki, tidak ada yang tidak mungkin. Semuanya kecil dimata Allah. Semuanya mudah dimata Allah.”
Tentu saja, ada kunci untuk mendapatkan kebesaran Allah ini, yaitu setelah kita menggantungkan semua pertolongan dan perlindungan kepada Allah semata. Katakanlah:
“Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung”. (QS. Ali Imran: 173)

"Kesuksesan Manusia"

Kesuksesan Manusia
Hari ini saya bertemu dengan teman Leting saya di kantor, dia menceritakan tentang keberhasilan seseorang yang masih muda, dan umurnya tidak jauh dari aku. Orang ini sukses meraih sertifikasi jaringan computer sampai keluar negeri, mendengar kesuksesan orang itu aku menjadi terpikir bahwa aku juga harus bisa seperti dirinya. Sejenak aku mengingat semua pekerjaanku setelah aku menamatkan kuliah ku dari sebuah Universitas Respati Indonesia, Fakultas Ekonomi Manajemen tak terasa aku sudah berumur hampir 29 tahun dan sudah hampir Lima tahun aku menjalani hari-hariku sebagai TNI AL, Selama ini aku melihat perjalannanku dengan membandingkannya terhadap dua hal yaitu : kesuksesan dan kegagalan orang lain. Satu hal yang sering menyesatkan hidup ini adalah apabila kita membuat orang itu menjadi sumber iri hati dan rasa sombong. Dalam hidup ini kita harus membuat visi dan misi serta strategi yang jelas, semua itu kita peroleh akibat pengaruh lingkungan kepada kita. Hidup tanpa visi dan misi serta strategi yang jelas hanya akan menimbulkan “penyesalan hidup”, penyesalan hidup ini timbul karena dalam menjalani hidup ini karena nafas dan jiwa tidak sejalan. Saya mengatakan nafas dan jiwa tidak sejalan karena dalam melangkah untuk menjalani hari-hari akan ditentukan oleh rasa yang bergejolak dalam hidup, rasa yang timbul itu adalah rasa tidak senang akan orang lain.
Hampir 29 tahun hidup di dunia ini, visi dan misi yang dibuat strategiku mulai jelas. Hal inilah yang sering membuat aku dipengaruhi oleh lingkungan, dimana aku ingin menyaingi yang tua, dan disisi yang lain aku sudah dilewati yang muda. Terkadang saya menyibukkan diri dengan belajar yang lebih tinggi atau teknologi yang baru, Dalam hidup ini saya berusaha menghargai waktu, dimana saya punya rencana setiap akan melangkah, kebanyakan hari-hariku ditentukan oleh Hati nurani untuk mendekatkan diri kepada Allah Swt. Memohon petunjuk jalan yang benar jalan yang diridoi oleh Allah Swt Untuk meraih kesuksesan dunia dan akherat.
Aku memiliki cita-cita untuk menjadi seorang Yang bisa membahagiakan kedua orang tuaku , Istri dan anak-anaku sampai sekarang aku masih belum tahu dengan pasti kenapa aku menjadi TNI AL, hal yang pasti inilah yang disebut dengan “Kesuksesan”. Saya teringat dengan drama yang pernah saya mainkan dengan teman-teman saya, judul yang kami ambil adalah “Aku adalah nahkoda hidupku”, seperti yang kita ketahui bahwa nahkoda itu adalah yang menentukan kemana kapal berlayar. Sama dengan kehidupan, tubuh ini adalah ibarat kapal, jiwa adalah nahkoda, dan lingkungan adalah laut luas. Coba kita bayangkan jika nahkoda tidak punya rencana akan kapalnya, maka terdapat tiga hal yang terjadi, yaitu :
1.kapal tetap berada di dermaga
Hal ini disebabkan oleh rasa takut dan malas. Dalam hidup ini sering sekali kita berada dalam hal ini, sehingga kita tidak punya cita-cita.
2. kapal terombang-ambing dilautan
Punya keberanian untuk mencoba, tetapi visi, misi, dan strategi tidak jelas sehingga anginlah yang membawa kapal kemana bergerak. Hal ini sangat sering terjadi dalam hidup ini dimana kita bekerja atas pengaruh lingkungan, dan bukan karena visi yang dibuat.
3.kapal sampai ke tujuan
Orang yang punya visi, misi, dan strategi yang jelas sehingga apapun rintangannya akan dihadapi sebagai sebuah “pembelajaran hidup”. Kesalahan kita yang sering kita lakukan adalah marah atas sebuah kesalahan, seharusnya kita harus belajar dari “kesalahan kita dan kesalahan orang lain”.
Jadi apabila ada diantara kita yang sering menyesali hidupnya, mulailah berubah dengan cara membuat visi, misi, dan startegi yang jelas. Lawan yang paling berat dalam menjalani hidup ini adalah diri kita sendiri, begitu jiwa yang memberontak ini bisa ditenangkan maka hidup ini akan bahagia dan terhindar dari rasa kawatir dan takut.

Kamis, 15 Juli 2010

“Sebait Puisi Dari IBU Tercinta, IBU Tercayang”

“Sebait Puisi Dari IBU Tercinta, IBU Tercayang”

Anakku...

Bila ibu boleh memilih
Apakah ibu berbadan langsing atau berbadan besar
karena mengandungmu

Maka ibu akan memilih mengandungmu !!

Karena dalam mengandungmu ibu merasakan keajaiban dan
kebesaran Allah
Sembilan bulan nak...
Engkau hidup di perut ibu
Engkau ikut kemanapun ibu pergi
Engkau ikut merasakan ketika jantung ibu berdetak
karena kebahagiaan
Engkau menendang rahim ibu ketika engkau merasa tidak
nyaman, karena ibu kecewa dan berurai air mata

Anakku...
Bila ibu boleh memilih untuk ibu berjuang melahirkanmu
Maka ibu memilih berjuang melahirkanmu !!
Karena menunggu dari jam ke jam, menit ke menit
kelahiranmu
Adalah seperti menunggu antrian memasuki salah satu
pintu surga
Karena kedahsyatan perjuanganmu untuk mencari jalan ke
luar ke dunia sangat ibu rasakan

Dan saat itulah kebesaran Allah menyelimuti kita
berdua , Malaikat tersenyum diantara peluh dan erangan rasa
sakit, Yang tak pernah bisa ibu ceritakan kepada siapapun
Dan ketika engkau hadir, tangismu memecah dunia
Saat itulah...
saat paling membahagiakan
Segala sakit & derita sirna melihat dirimu yang merah,



Anakku...

Bila ibu boleh memilih apakah ibu berdada indah, atau
harus bangun tengah malam untuk menyusuimu,

Maka ibu memilih menyusuimu,!!

Karena dengan menyusuimu ibu telah membekali hidupmu
dengan tetesan-tetesan dan tegukan tegukan yang sangat
berharga
Merasakan kehangatan bibir dan badanmu didada ibu
dalam kantuk ibu,
Adalah sebuah rasa luar biasa yang orang lain tidak
bisa rasakan

Anakku...

Bila ibu boleh memilih duduk berlama-lama di ruang
rapat

Atau duduk di lantai menemanimu menempelkan puzzle
Maka ibu memilih bermain puzzle denganmu
Tetapi anakku...
Hidup memang pilihan...
Jika dengan pilihan ibu, engkau merasa sepi dan merana

Maka maafkanlah nak...
Maafkan ibu...
Maafkan ibu...

Percayalah nak, ibu sedang menyempurnakan puzzle
kehidupan kita,
Agar tidak ada satu kepingpun bagian puzzle kehidupan
kita yang hilang
Percayalah nak...
Sepi dan ranamu adalah sebagian duka ibu

Percayalah nak...

Engkau adalah selalu menjadi belahan nyawa ibu...

Hanya tulisan ini yang bisa ayah berikan untukmu nak..Supaya Kau mengerti Betapa Ikhlasnya,Hebatnya perjuangan seorang IBU…

UNTUK ANAKKU TERCINTA...

UNTUK ANAKKU TERCINTA..
”Salsabila Nadhifah Putri”

Engkau yang masih putih
Bagai tebaran kapas
Yang belum tau arti sedih
Belum juga pernah terhempas

Ayah selalu berdoa untukmu
Untuk sopan dan berbudi
Dalam menapaki masa depanmu
Dan beribadah sehari-hari

Ayah selalu risau dalam duka
Akan kehidupan ini
Yang semakin jauh dari norma agama
Kehidupan semakin jauh atas Allah yang Suci

Anakku yang beragama
Hiduplah dalam bimbingan Illahi
Jangan lupa Berbakti Kepada Orang tua,
beribadah,Berdo’a, belajar dan bekerja
Untuk kehidupanmu yang kita damba

Selamatlah di dunia
selamatlah di akherat
Selalu bahagia
Hidup bermartabat

"Salsabila Nadhifah Putri"

"Anakku Tersayang….Salsabila Nadhifah Putri"

Anakku...
Kehadiranmu membawa arti baru dalam hidupku
Senyumanmu menyemangati hidup Ayahmu ini
Hari-hariku kini menjadi berarti
Engkau pelipur dalam Duka

Anakku..
Jadilah Insan yang Solehah
Bantu Ayahmu mengapai Surga
Ilhami ayah dengan senyum polosmu

Anakku...
Saat indah bersama...
Tertawa lepas...
Ayah Rindu...
Akan Sapaanmu yang Lembut
Kau Menanti Ayah Pulang
Di Pintu Depan Engkau Menunggu
Tapi Kini...
Ayah Jauh disisi
Di TNI AL Ayah Mengabdi
Sambil Menimba ilmu
Mengabdi pada Negara dan Menimba ilmu
Bekal Buat anakku...
Kenangan bersamamu pengobat Rindu
Ayah Tampilkan agar Dunia Tahu
Engkau adalah anakku

Ayah kangen Jauh Darimu….

“Do’a pun akhirnya memiliki nama”

“Do’a pun akhirnya memiliki nama”

Anakku tersayang,…..
Meskipun orang-orang di kota tempat engkau dilahirkan berkata
apalah arti sebuah nama.
Ayah melihatnya dari sudut pandang berbeda, dari asal kita, dari Timur
di mana kita yakin bahwa nama adalah doa bahkan sebuah harapan yang abadi.

Anakku tersayang,…..
Tahukah engkau bahwa tidaklah mudah merangkai doa terbaik
yang akan engkau panggul sepanjang hidup bahkan setelah itu?

Anakku tersayang,…..
Ayah berdoa semoga engkau menjadi seorang yang senantiasa Beriman dan Bertakwa Kepada Allah Swt, dan selalu diJalan yang Benar Jalan Yang DiRidoi Allah Swt
Ayah berdoa semoga engkau jadi seorang yang sangat cerdas, Kreatif, Jenius, dan sangat produktif
semoga pula engkau bersemboyan "tiada hari tanpa karya nyata" dalam akal dan hatimu.
Ayah berdoa semoga engkau berani menegakkan kebenaran walau di hadapan penguasa lalim
karena pada saat itu lah "syurga merindukanmu, wahai jiwa yang tenang!"

Anakku tersayang…..,
Tahukah engkau bahwa penyantun adalah nama panggilan leluhurmu
darinya darah mulia mengalir dalam nadimu yang mempesona?
Ayah pun berdoa semoga engkau benar-benar memiliki kebaikan hati
berkat itu engkau mampu menghilangkan derita mereka

Anakku tersayang,…..
Tahukah engkau bahwa menjadi orang fakir sangatlah menyedihkan, melelahkan dan menyakitkan
sampai kita pun berharap semoga engkau selalu bawa keberuntungan dan menjadi kaya?
Ingatlah, jadi kaya dalam arti sebenarnya tidaklah mudah dan sesederhana
seperti yang kita bayangkan dalam dongeng pengantar lelapmu.


Anakku tersayang……,
Ayah berdoa semoga engkau selalu menjadi orang yang benar-benar terpuji
yang selalu membawa kehormatan dan kejayaan keluarga besar kita.
Engkaulah yang akan menyandang namaku layaknya doa terbaik penuh harapan
sejak kelahiranmu sampai dunia hancur, luluh lantak, kiamat dan akhirnya tercipta kembali.

Anakku tersayang,
Doa pun akhirnya memiliki nama !
“Salsabila Nadhifah Putri”

Rabu, 14 Juli 2010

**3 Langkah Menjadi Manusia Terbaik**

**3 Langkah Menjadi Manusia Terbaik**

Ada hadits pendek namun sarat makna dikutip Imam Suyuthi dalam bukunya Al-Jami’ush Shaghir. Bunyinya, “Khairun naasi anfa’uhum linnaas.” Terjemahan bebasnya: sebaik-baik manusia adalah siapa yang paling banyak bermanfaat bagi orang lain.
Derajat hadits ini menurut Imam Suyuthi tergolong hadits hasan. Syeikh Nasiruddin Al-Bani dalam bukunya Shahihul Jami’ush Shagir sependapat dengan penilaian Suyuthi.
Adalah aksioma bahwa manusia itu makhluk sosial. Tak ada yang bisa membantah. Tidak ada satu orangpun yang bisa hidup sendiri. Semua saling berketergantungan. Saling membutuhkan.
Karena saling membutuhkan, pola hubungan seseorang dengan orang lain adalah untuk saling mengambil manfaat. Ada yang memberi jasa dan ada yang mendapat jasa. Si pemberi jasa mendapat imbalan dan penerima jasa mendapat manfaat. Itulah pola hubungan yang lazim. Adil.
Jika ada orang yang mengambil terlalu banyak manfaat dari orang lain dengan pengorbanan yang amat minim, naluri kita akan mengatakan itu tidak adil. Orang itu telah berlaku curang. Dan kita akan mengatakan seseorang berbuat jahat ketika mengambil banyak manfaat untuk dirinya sendiri dengan cara yang curang dan melanggar hak orang lain.
Begitulah hati sanubari kita, selalu menginginkan pola hubungan yang saling ridho dalam mengambil manfaat dari satu sama lain. Jiwa kita akan senang dengan orang yang mengambil manfaat bagi dirinya dengan cara yang baik. Kita anggap seburuk-buruk manusia orang yang mengambil manfaat banyak dari diri kita dengan cara yang salah. Apakah itu menipu, mencuri, dan mengambil paksa, bahkan dengan kekerasan.
Namun yang luar biasa adalah orang lebih banyak memberi dari mengambil manfaat dalam berhubungan dengan orang lain. Orang yang seperti ini kita sebut orang yang terbaik di antara kita. Dermawan. Ikhlas. Tanpa pamrih. Tidak punya vested interes.
Orang yang selalu menebar kebaikan dan memberi manfaat bagi orang lain adalah sebaik-baik manusia. Kenapa Rasulullah saw. menyebut seperti itu? Setidaknya ada empat alasan. Pertama, karena ia dicintai Allah swt. Rasulullah saw. pernah bersabda yang bunyinya kurang lebih, orang yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain. Siapakah yang lebih baik dari orang yang dicintai Allah?
Alasan kedua, karena ia melakukan amal yang terbaik. Kaidah usul fiqih menyebutkan bahwa kebaikan yang amalnya dirasakan orang lain lebih bermanfaat ketimbang yang manfaatnya dirasakan oleh diri sendiri. Apalagi jika spektrumnya lebih luas lagi. Amal itu bisa menyebabkan orang seluruh negeri merasakan manfaatnya. Karena itu tak heran jika para sahabat ketika ingin melakukan suatu kebaikan bertanya kepada Rasulullah, amal apa yang paling afdhol untuk dikerjakan. Ketika musim kemarau dan masyarakat kesulitan air, Rasulullah berkata membuat sumur adalah amal yang paling utama. Saat seseorang ingin berjihad sementara ia punya ibu yang sudah sepuh dan tidak ada yang merawat, Rasulullah menyebut berbakti kepada si ibu adalah amal yang paling utama bagi orang itu.
Ketiga, karena ia melakukan kebaikan yang sangat besar pahalanya. Berbuat sesuatu untuk orang lain besar pahalanya. Bahkan Rasulullah saw. berkata, “Seandainya aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi suatu kebutuhannya, maka itu lebih aku cintai daripada I;tikaf sebulan di masjidku ini.” (Thabrani). Subhanallah.
Keempat, memberi manfaat kepada orang lain tanpa pamrih, mengundang kesaksian dan pujian orang yang beriman. Allah swt. mengikuti persangkaan hambanya. Ketika orang menilai diri kita adalah orang yang baik, maka Allah swt. menggolongkan kita ke dalam golongan hambanya yang baik-baik.
Pernah suatu ketika lewat orang membawa jenazah untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut orang itu sebagai orang yang tidak baik. Kemudian lewat lagi orang-orang membawa jenazah lain untuk diantar ke kuburnya. Para sahabat menyebut-nyebut kebaikan si mayit. Rasulullah saw. membenarkan. Seperti itu jugalah Allah swt. Karena itu di surat At-Taubah ayat 105, Allah swt. menyuruh Rasulullah saw. untuk memerintahkan kita, orang beriman, untuk beramal sebaik-baiknya amal agar Allah, Rasul, dan orang beriman menilai amal-amal kita. Di hari akhir, Rasul dan orang-orang beriman akan menjadi saksi di hadapan Allah bahwa kita seperti yang mereka saksikan di dunia.
Untuk bisa menjadi orang yang banyak memberi manfaat kepada orang lain, kita perlu menyiapkan beberapa hal dalam diri kita. Pertama, tingkatkan derajat keimanan kita kepada Allah swt. Sebab, amal tanpa pamrih adalah amal yang hanya mengharap ridho kepada Allah. Kita tidak meminta balasan dari manusia, cukup dari Allah swt. saja balasannya. Ketika iman kita tipis terkikis, tak mungkin kita akan bisa beramal ikhlas Lillahi Ta’ala.
Ketika iman kita memuncak kepada Allah swt., segala amal untuk memberi manfaat bagi orang lain menjadi ringan dilakukan. Bilal bin Rabah bukanlah orang kaya. Ia hidup miskin. Namun kepadanya, Rasulullah saw. memerintahkan untuk bersedekah. Sebab, sedekah tidak membuat rezeki berkurang. Begitu kata Rasulullah saw. Bilal mengimani janji Rasulullah saw. itu. Ia tidak ragu untuk bersedekah dengan apa yang dimiliki dalam keadaan sesulit apapun.


Kedua, untuk bisa memberi manfaat yang banyak kepada orang lain tanpa pamrih, kita harus mengikis habis sifat egois dan rasa serakah terhadap materi dari diri kita. Allah swt. memberi contoh kaum Anshor. Lihat surat Al-Hasyr ayat 9. Merekalah sebaik-baik manusia. Memberikan semua yang mereka butuhkan untuk saudara mereka kaum Muhajirin. Bahkan, ketika kaum Muhajirin telah mapan secara financial, tidak terbetik di hati mereka untuk meminta kembali apa yang pernah mereka beri.
Yang ketiga, tanamkan dalam diri kita logika bahwa sisa harta yang ada pada diri kita adalah yang telah diberikan kepada orang lain. Bukan yang ada dalam genggaman kita. Logika ini diajarkan oleh Rasulullah saw. kepada kita. Suatu ketika Rasulullah saw. menyembelih kambing. Beliau memerintahkan seorang sahabat untuk menyedekahkan daging kambing itu. Setelah dibagi-bagi, Rasulullah saw. bertanya, berapa yang tersisa. Sahabat itu menjawab, hanya tinggal sepotong paha. Rasulullah saw. mengoreksi jawaban sahabat itu. Yang tersisa bagi kita adalah apa yang telah dibagikan.
Begitulah. Yang tersisa adalah yang telah dibagikan. Itulah milik kita yang hakiki karena kekal menjadi tabungan kita di akhirat. Sementara, daging paha yang belum dibagikan hanya akan menjadi sampah jika busuk tidak sempat kita manfaatkan, atau menjadi kotoran ketika kita makan. Begitulah harta kita. Jika kita tidak memanfaatkannya untuk beramal, maka tidak akan menjadi milik kita selamanya. Harta itu akan habis lapuk karena waktu, hilang karena kematian kita, dan selalu menjadi intaian ahli waris kita. Maka tak heran jika dalam sejarah kita melihat bahwa para sahabat dan salafussaleh enteng saja menginfakkan uang yang mereka miliki. Sampai sampai tidak terpikirkan untuk menyisakan barang sedirham pun untuk diri mereka sendiri.
Keempat, kita akan mudah memberi manfaat tanpa pamrih kepada orang lain jika dibenak kita ada pemahaman bahwa sebagaimana kita memperlakukan seperti itu jugalah kita akan diperlakukan. Jika kita memuliakan tamu, maka seperti itu jugalah yang akan kita dapat ketika bertamu. Ketika kita pelit ke tetangga, maka sikap seperti itu jugalah yang kita dari tetangga kita.
Kelima, untuk bisa memberi, tentu Anda harus memiliki sesuatu untuk diberi. Kumpulkan bekal apapun bentuknya, apakah itu finansial, pikiran, tenaga, waktu, dan perhatian. Jika kita punya air, kita bisa memberi minum orang yang harus. Jika punya ilmu, kita bisa mengajarkan orang yang tidak tahu. Ketika kita sehat, kita bisa membantu beban seorang nenek yang menjinjing tak besar. Luangkan waktu untuk bersosialisasi, dengan begitu kita bisa hadir untuk orang-orang di sekitar kita.
Mudah-muhan yang sedikit ini bisa menginspirasi.

**Mutiara Untuk Bunda**

**Mutiara Untuk Bunda**

BUNDA…apakah yang sebenarnya engkau harapkan dari kami, anak-anakmu ? Ingatkah dulu ketika tingkah laku kami menguji kesabaranmu, kata-kata yang selalu terucap dari bibirmu di awali dengan kata semoga ?
Sadarkah engkau jika kata semoga yang terucap itu menjadi doa ? Kini kami telah menjadi seseorang yang sesuai dengan kata semogamu, tapi mengapa seolah engkau lupa dengan harapan itu ? Seringkali engkau ceritakan keberhasilan yang dicapai anak dari teman-teman atau kenalanmu seolah ajang perbandingan bagi kami.
Bukankah ungkapan populer seperti barangsiapa yang menanam maka ia pula yang akan menuai, bisa menjadi suatu pelajaran; bahwa seseorang akan memperoleh hasil sesuai dengan apa yang ia usahakan. Begitu banyak contoh nyata yang berbicara, seorang anak terbentuk dari hasil kebiasaan, doa dan harapan kedua orangtuanya.
Ada kisah seorang anak yang ketika dewasanya berhasil menjadi jenderal disebabkan semasa kecilnya sering disirami harapan berupa ucapan dari sang ibu, semoga nanti kamu menjadi jenderal. Ada anak yang tumbuh dewasa berhasil dalam hal materi, ada yang sukses berkarir dan menduduki jabatan tertentu, ada juga yang sukses dalam mencapai religiusitas kehidupannya. Tentu saja keberhasilan tersebut tidak terlepas dari kehendak Allah Swt yang Maha berkuasa atas segala sesuatu.
Bunda, apakah sebenarnya yang engkau harapkan dari kami, anak-anakmu ? Masih lekat dalam ingatan kami, kenangan berharga dari masa kecil yang kini menemani kehidupan dewasa kami. Bagaimana dulu bunda selalu menceritakan kisah-kisah hikmah para Nabi sebagai pengantar tidur, menanamkan nilai-nilai kebaikan, dan mencontohkan kebiasaan beribadah kepada Allah Swt. Kami belajar tentang kemuliaan hidup dengan ketaatan kepada-Nya.
Bunda, apakah engkau menginginkan kami memiliki keberhasilan seperti kebanyakan orang ? berlimpah kemewahan dunia yang kemudian dikatakan banyak orang sebagai keberuntungan hidup tapi miskin ruhaninya. Menampakkan kemegahan dalam harta benda dan penampilannya namun lupa menampakkan rasa syukur kepada yang telah memberikannya (Allah Swt) dalam perilaku hidup kesehariannya.
Bukankah kesenangan hidup adalah hal yang dipergilirkan oleh Allah di dunia ? Itulah tabiat kehidupan yang sebenarnya, jika kita menjadikan Al Qur’an sebagai pedoman hidup kita. Hanya kenikmatan hidup yang diiringi dengan ketaatan kepada Allah sajalah yang akan bertahan lama dan selalu bertambah. Mengapa harus bersusah payah memikirkan dunia ? Tenanglah bunda, semua berjalan sesuai dengan takdir yang sudah ditetapkan oleh-Nya. Itulah pelajaran yang kami dapat di bawah naungan bimbingan bunda.
Bunda, ibadah kami, kecintaan kami terhadap ilmu dan agama adalah hasil dari kebiasaan hidup yang kami serap darimu. Begitulah cara engkau membesarkan kami. Demikianlah kami tumbuh dan dewasa. Bunda, sadarilah ini sebagai keberhasilan bunda dalam mendidik kami yang merupakan realisasi dari hadist Rasulullah, bahwa surga itu berada di bawah telapak kaki (didikkan) para ibu. Inilah kemuliaan bagimu, tidakkah bunda merasa puas dan bahagia ?
Keberhasilan dan kemuliaan bunda dalam membesarkan kami tidak diukur dari sekedar kemewahan harta benda, begitu pula dengan keberuntungan hidup kami. Kita memiliki keyakinan akan kenikmatan negeri akhirat. Relakah bunda menukar segala kenikmatan surga dengan kenikmatan dunia yang diibaratkan Rasulullah sebagai gundukkan sampah ?
Bunda, jangan menangis…maafkan kami, jika kami belum lah sesempurna doa dan harapan bunda. Untukmu, kupintakan doa kepada yang Maha memiliki segala sesuatu yang ada di bumi dan di langit. Semoga Allah Swt menghapus kesedihanmu dan berkenan memberikan apa yang bunda inginkan terhadap kami…Agar bunda bahagia dan termasuk kedalam golongan hamba-hamba Allah yang mensyukuri nikmat-Nya.
Semoga Allah menyelamatkanmu dari terjangkitnya penyakit cinta dunia yang kini membutakan kebanyakan hati para orangtua dan tidak termasuk kedalam golongan orang-orang yang ingkar terhadap nikmat Allah, karena seburuk-buruk tempat kembali mereka adalah neraka.

Ya, Allah…Engkaulah zat yang Maha mendengar dan mengabulkan permohonan setiap hamba yang meminta kepada-Mu. Perkenankanlah doa kami, sebagai rasa syukur kami kepada-Mu dan sebagai rasa terima kasih kami kepada bunda yang telah mendidik kami mengenal ketaatan dan kecintaan terhadap-Mu.
“Ya, Allah. Ampunilah dosa kami dan dosa kedua orangtua kami serta sayangilah keduanya seperti mereka menyayangi kami sewaktu kami kecil”. (QS. Al Israa’, ayat 24). Ya, Allah…Jadikanlah kecintaan kami kepada-Mu, kepada ilmu dan agama sebagai kemuliaan dan mutiara untuk bunda, di dunia dan di akhirat, amin.***